| -aku dengan segala isi kepalaku- |
BAGIAN I
Kamarku merengek minta dibereskan.
Ada secangkir hujan jatuh dengan aromanya, yang membuatku tidur satu semester lamanya. Kuliah yang memabukkan. Kelas online yang membosankan, juga pertemanan yang bukan benar-benar teman.
Aku tertidur dengan buku buku di pelukan yang merengek minta dibaca di halaman ke-21. Buku tua tanpa sampul dengan aroma khas kertas lusuh dengan lipatan diujung sebagai tanda, "aku sudah sampai sini".Sedangkan kepalaku tetap menempel bantal yang tidak mau kenalan dengan sarung. Aku tidak perlu sembunyi dari apapun, katanya. Diujung kasur, kau akan menemukan kakiku menendang-nendang kertas ketika aku menghadapi kenyataan buruk.
Nyatanya tubuhku adalah kumpulan dan kumparan kesedihan serta kemarahan yang kau lihat dijalanan kota. Angin tidak pernah tenang, ia adalah kumpulan pikiran pikiran ku yang butuh pelukan. Atau ambisi ku yang katanya mencari kebahagiaan.
Aku benci ketika kau berkata, "semoga mimpi indah" Tidak ada orang yang ingin mimpinya lebih indah dari kenyataan. Aku selalu bersama dengan harapan-harapan besar, tapi aku jauh dengan usaha maksimal. Mungkin aku belum dapat akrab dengannya saat ini. Hingga sampai pada saat dimana aku menyatu dengan kata lamban dan nyaman dalam zona kesendirian.
BAGIAN II
Seseorang pernah mengatakan ini padaku, katanya:
"Katakanlah bahwa setiap manusia yang lahir di bumi dengan sebuah pena dan kertas berwarna putih. Pena diberi oleh tuhan supaya kita dapat mencatat pelajaran-pelajaran yang telah kita terima sepanjang hidup.
Lambat laun manusia kehilangan pena. Manusia mulai lupa akan pelajaran mencatat. Manusia terlalu fokus pada pekerjaan menjaga kertas agar selalu senantiasa putih. Manusia lupa untuk menjadi seorang manusia.
Menjadi lamban adalah cara alam mempertemukan kita dengan pena yang hilang.
Menjadi lamban adalah cara alam mengisi lembaran kertas putih yang kita miliki dengan berbagai pelajaran.
Menjadi lamban cara alam untuk menyadarkan kita bahwa didunia Ini Tidak ada yang benar-benar putih.
Menjadi lamban adalah cara alam untuk menyadarkan bahwa tidak semua hal di dunia ini tidak dapat kita kontrol.
Adalah cara alam untuk menyadarkan kita bahwa kita hanya manusia yang tidak harus sempurna.
