Kamis, 14 Oktober 2021

-aku dengan segala isi kepalaku-

BAGIAN I

Kamarku merengek minta dibereskan.

Ada secangkir hujan jatuh dengan aromanya, yang membuatku tidur satu semester lamanya. Kuliah yang memabukkan. Kelas online yang membosankan, juga pertemanan yang bukan benar-benar teman. 

Aku tertidur dengan  buku buku di pelukan yang merengek minta dibaca di halaman ke-21. Buku tua tanpa sampul dengan aroma khas kertas lusuh dengan lipatan diujung sebagai tanda, "aku sudah sampai sini".Sedangkan kepalaku tetap menempel bantal yang tidak mau kenalan dengan sarung. Aku tidak perlu sembunyi dari apapun, katanya. Diujung kasur, kau akan menemukan kakiku menendang-nendang kertas ketika aku menghadapi kenyataan buruk. 

Nyatanya  tubuhku  adalah kumpulan dan kumparan kesedihan serta kemarahan yang kau lihat dijalanan kota. Angin tidak pernah tenang, ia adalah kumpulan pikiran pikiran ku yang butuh pelukan. Atau ambisi ku yang katanya mencari kebahagiaan. 

Aku benci ketika kau berkata, "semoga mimpi indah" Tidak ada orang yang ingin mimpinya lebih indah dari kenyataan. Aku selalu bersama dengan harapan-harapan besar, tapi aku jauh dengan usaha maksimal. Mungkin aku belum dapat akrab dengannya saat ini. Hingga sampai pada saat dimana aku menyatu dengan kata lamban dan nyaman dalam zona kesendirian. 

BAGIAN II

Seseorang pernah mengatakan ini padaku, katanya:

"Katakanlah bahwa setiap manusia yang lahir di bumi dengan sebuah pena dan kertas berwarna putih. Pena diberi oleh tuhan supaya kita dapat mencatat pelajaran-pelajaran yang telah kita terima sepanjang hidup. 

Lambat laun manusia kehilangan pena. Manusia mulai lupa akan pelajaran mencatat. Manusia terlalu fokus pada pekerjaan menjaga kertas agar selalu senantiasa putih. Manusia lupa untuk menjadi seorang manusia. 

Menjadi lamban adalah cara alam mempertemukan kita dengan pena yang hilang. 

Menjadi lamban adalah cara alam mengisi lembaran kertas putih yang kita miliki dengan berbagai pelajaran. 

Menjadi lamban cara alam untuk menyadarkan kita bahwa didunia Ini Tidak ada yang benar-benar putih. 

Menjadi lamban adalah cara alam untuk menyadarkan bahwa tidak semua hal di dunia ini tidak dapat kita kontrol. 

Adalah cara alam untuk menyadarkan kita bahwa kita hanya manusia yang tidak harus sempurna.

Ini hanya sebuah tulisan yang tidak memiliki tujuan kemana ia akan disematkan. Entah dipikiran, atau hanya sekedar singgah sebentar dalam angan. 


Rabu, 06 Oktober 2021

Cahaya lampu hias kamar berkedip seperti kedip mata manusia. Mulai tak terdengar percakapan antar manusia yang menempati kamar seberang. Hanya ada suara kipas tua yang berisik, dan suara detak jarum jam yang mulai membentuk menjadi ritme pengantar tidur. Aku tidak ingat kapan terakhir aku merasakan malam sebagai waktu yang tepat untuk sekedar mengistirahatkan mata dari cahaya layar handphone. Akhir-akhir ini malamku berisikan riuh pasar dengan teriakan penghuni kepala yang mengajukan berbagai pertanyaan.


Aku menuliskan ini disertai dengan kecemasan yang tidak masuk akal. Ini perihal kecemasan yang muncul akibat ekspektasi orang-orang terdekatku. Mereka yang tergolong dekat denganku selalu menjadikanku contoh untuk anak-anak mereka atau sekedar pujian atas hal kecil yang ku lakukan.

Pujian serta apresiasi mereka justru membuatku merasa tertekan dan hingga muncullah kecemasan. Ya, kecemasan akan kegagalan yang seakan-akan menghampiriku. Kecemasan jika aku berakhir tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Aku memang bukan manusia waras, jadi wajar saja ketika aku menganggap pujian sebagai beban. Alih-alih menjadikan pujian sebagai semangat, justru aku merasa pujian mereka seakan-akan berubah menjadi harapan tinggi yang dinobatkan kepada manusia yang setengah waras ini.

Suatu malam, aku pernah mencoba untuk mengabaikan semua perasaan yang muncul di kepalaku dan berpura-pura menutup mata. Dan berkata, "kamu hanya perlu menghadapinya im". Lagi-lagi aku percaya, bukan hanya aku yang merasakan hal semacam ini. Setiap manusia pasti memiliki kecemasannya sendiri. Mungkin ini hanya sebagian kecil dari kecemasan-kecemasan yang ada di luar sana. Hingga aku sampai pada kesimpulan bahwa hidup adalah parodi yang memang dimaksudkan untuk lucu.  Tak ada cara lain. Dan ku rasa kita perlu tertawa dengan hikmat di waktu-waktu senggang. Apalagi yang lebih lucu dari kondisi hidup?.

Jika menerima adalah awal, maka tertawa adalah sesuatu yang melampaui dari penerimaan. Lagi-lagi dunia terlalu aneh untuk ditangisi.

Blogroll

BTemplates.com

Popular Posts