![]() |
| Pic from pinterest |
Disela-sela kesibukan yang tidak menentu. Kadang sibuk ngerjain skripsi seminggu sekali, kadang juga sibuk menamatkan event dalam game, kadang juga suka sibuk diem aja. Aku memang cukup sibuk untuk banyak hal. Tapi untuk kali ini, aku kembali lagi setelah sekian purnama aku bersembunyi di dalam goa pikiranku sendiri. Bukan karena aku lupa pasword blog ini. Seperti yang aku katakan tadi, aku cukup sibuk dalam banyak hal. Berbicara tentang kesibukan, kalian juga pasti memiliki kesibukan, tapi aku akan mengucapkan terimakasih karena tetap mau membaca tulisan yang tidak tau arah jalan pulang ini. Saat ini aku disibukkan dengan pikiranku yang mulai sejak kemarin sore membuatku berpikir semalaman. Ini perihal insecure yang saat ini populer dikalangan anak muda yang katanya beranjak dewasa. Insecure bisa dikatakan sebagai bentuk perasaan tidak percaya diri. Tapi aku tidak akan membahas pengertian apa itu insecure, karena kalian pasti tau dan mungkin kalian juga sering merasakan hal demikian.
Sebagai manusia yang lebih sering memfungsikan telingaku, menjadikan
aku sering mendengarkan istilah tersebut. Hampir dua kali dalam sehari aku
mendengar kata insecure yang dilengkapi dengan problematika yang mendramatisir.
Insecure memang wajar dialami oleh manusia normal. Rasa tidak percaya diri
terkadang juga kita butuhkan agar kita tahu diri. Tetapi, semakin kesini memang
semakin kesana. Apapun yang kita anggap tidak memenuhi kualifikasi standar
kehidupan jaman sekarang, itu menjadikan rasa insecure muncul begitu saja. Tetapi anehnya kita
mempelihara kata insecure dalam diri kita, sampai pada puncaknya kalian akan memberi
label pada diri kalian dengan istilah "Depresi". Secara tidak sadar kalian
telah membangun tembok dan mengurung diri.
Karena selalu merasa tidak sebanding dengan orang lain.
Penggunaan istilah insecure juga dirasa tidak perlu sering-sering
digunakan. Karena, pada nyatanya jika dipilah satu persatu permasalahan yang
kalian timbun dalam pikiran kalian, mungkin hanya 10% saja yang memang pantas
menyandang gelar insecure mengahadapi problematika kehidupan. Artinya, tidak
semua hal dapat dijadikan bahan untuk mendramatisir kehidupan kalian sendiri. Misalnya para pengguna android yang insecure
dengan iph*** user, ketinggalan glow up, penampilan yang tidak trandi ala
pemuda masa kini, circle high class yang katanya "Toxic Relationship"
tapi tetep repost story, dan problematika yang sebenarnya dapat kalian
selesaikan sebelum meluncurkan kata Insecure ke permukaan bumi ini.
Penggunaan kata insecure yang sering kalian ucapakan itu juga berdampak
pada pemikiran orang lain. ini terjadi pada diriku sendiri. Karena sering
mendengarkan cerita insecure yang menurutku tidak masuk akal, lambat laun dengan
tidak sadar aku juga terbawa dengan suasana dan menerapkan istilah insecure
itu. Padahal, sebelumnya aku tidak begitu memperdulikan hal-hal yang memang
menurutku tidak perlu dipikirkan. Ada salah satu temanku yang pernah menceritakan bahwa
dirinya Insecure dengan teman-temannya yang sudah glow up, pakaian yang
terlihat mahal dikalangan mahasiswa dan atribut duniawi lainnya. Menjadikan aku
berpikir bahwa aku juga belum mencapai hal-hal tersebut. Secara tidak sadar,
insecure juga menciptakan standar keberhasilan bagi diri kita. Padahal semua
itu pada awalnya bukan tujuan kita.
Insecure yang telah mengakar pada mindset kita, kemudian menciptakan
standar keberhasilan yang tidak sesuai dengan tujuan awal, menjadikan
mental-mental yang harus disupport oleh atribut dunia, menjadikan diri semakin
merasa tidak pantas berada di muka bumi ini, dan menularkan rasa-rasa insecure
kepada orang lain hingga menciptakan pribadi yang manipulatif. Mungkin menurutku
pribadi yang sok tau ini, sudah saatnya kita meminimalisir penggunaan kata
insecure pada diri kita. Karena pada nyatanya, permasalahan tersebut bisa kita selesaikan,
dan lagi-lagi hidup beserta gayanya adalah pilihan. Sudah saatnya memfilter
mana yang perlu dikonsumsi oleh otak, dan mana yang perlu untuk dibuang. Dan berhentilah
untuk mengatakan insecure pada segala hal jika dirasa itu mampu diselesaikan
atau bahkan tidak perlu dipikirkan.
