Selasa, 18 Januari 2022



Bicara soal kehilangan diusia seperempat abad ini, rasanya bukan hal yang baru lagi. Pasalnya, sudah sewajarnya jika hidup hampir 25 tahun dan kehilangan seseorang sekeliling kita. Kehilangan bukan perihal menerima, ikhlas, atau sekedar berkata “aku baik-baik saja”. Tidak ada yang baik-baik saja ketika kehilangan seseorang yang kita cintai. Rasanya untuk menyebut “seseorang yang dicintai” terlalu naif untukku yang tidak tau apa itu perasaan mencintai. Tidak lebih hanya saling peduli atau pura-pura peduli. Aku tidak tau jelasnya perasaan mencintai itu bagaimana, yang ku pelajari diusiaku saat ini hanyalah kehilangan. Tapi jika dipikir-pikir, bukankah kehilangan itu ada karena cinta? Ah, tidak masuk akal. Seseorang yang hanya tau cara menghabiskan uang bicara soal cinta dan kehilangan.

Aku tidak akan bernostalgia dengan mata yang berkaca-kaca serta berharap dikashani. Aku juga tidak sedang berusaha untuk baik-baik saja. Aku hanya ingin merayakan 205 halaman yang sudah aku lewati dengan sebaik mungkin. Menjalani 205 halaman dengan seorang laki-laki berusia lebih dari setengah abad, keriput yang mulai terlihat, dan kesehatan yang sudah rentan karena ditinggal oleh setengah napasnya. Siapa lagi kalau bukan manusia keren yang selalu bilang, “hai anakku yang cantik, gimana kabarnya?”.

Dari 205 halaman ini, terlalu banyak perasaan yang ingin ku rayakan. Jelasnya, aku tidak punya waktu untuk sekedar menulis blog tidak bermutu ini karena aku disibukkan untuk mewujudkan ekspektasi manusia lain terhadapku. Tapi ada satu hal yang membuatku merasakan adanya sedikit unsur manusiawi dalam diriku. Aku menemukan banyak manusia baik kepadaku akhir-akhir ini. Entah ia kasihan melihat mukaku yang begini-begini saja, atau ia merasa nyaman ketika berteman denganku. Ya, ini perihal pertemanan. Aku sudah memiliki teman, asal kau tau. Tapi entah ia menganggapku teman atau apa, aku tidak peduli. Mereka ku sebut A,I,U,E,O karena jumlahnya yang tidak hanya satu. Entah mereka sadari atau tidak, aku selalu merasa terbantu dalam melewati per-halaman kisah yang dibuat mendramatisir oleh tuhan hingga saat ini.

Sebenarnya dan yang lebih tepatnya aku yang baru-baru ini bisa menghargai kehadiran seseorang. Sudah ku bilang, sekarang aku sedikit manusiawi. Pasalnya, setelah aku mengalami kehilangan yang tidak masuk akal itu, aku baru saja memahami bahwa banyak orang disekelilingku yang harus kucintai lebih dari motor kesayanganku. Catat itu! Bahkan mereka mengalahkan motor kesayanganku.

Sungguh ini tulisan yang tidak memiliki arah tujuan, dan ku harap kalian tidak menyesal membaca ini hingga akhir. Aku ingin mengucapkan terimakasih kepada teman-temanku yang menjelma menjadi Dark Chocolate yang disajikan ketika hujan dengan kondisi masih hangat. Dan kalian yang membaca hingga akhir tulisan ini. Terimakasih sudah berkontribusi dalam ceritaku yang seperti skenario drama.


0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

BTemplates.com

Popular Posts