Bicara soal kehilangan diusia seperempat abad ini, rasanya bukan hal yang baru lagi. Pasalnya, sudah sewajarnya jika hidup hampir 25 tahun dan kehilangan seseorang sekeliling kita. Kehilangan bukan perihal menerima, ikhlas, atau sekedar berkata “aku baik-baik saja”. Tidak ada yang baik-baik saja ketika kehilangan seseorang yang kita cintai. Rasanya untuk menyebut “seseorang yang dicintai” terlalu naif untukku yang tidak tau apa itu perasaan mencintai. Tidak lebih hanya saling peduli atau pura-pura peduli. Aku tidak tau jelasnya perasaan mencintai itu bagaimana, yang ku pelajari diusiaku saat ini hanyalah kehilangan. Tapi jika dipikir-pikir, bukankah kehilangan itu ada karena cinta? Ah, tidak masuk akal. Seseorang yang hanya tau cara menghabiskan uang bicara soal cinta dan kehilangan.
Aku tidak akan bernostalgia dengan mata yang berkaca-kaca serta berharap
dikashani. Aku juga tidak sedang berusaha untuk baik-baik saja. Aku hanya ingin
merayakan 205 halaman yang sudah aku lewati dengan sebaik mungkin. Menjalani 205
halaman dengan seorang laki-laki berusia lebih dari setengah abad, keriput yang
mulai terlihat, dan kesehatan yang sudah rentan karena ditinggal oleh setengah
napasnya. Siapa lagi kalau bukan manusia keren yang selalu bilang, “hai anakku
yang cantik, gimana kabarnya?”.
Dari 205 halaman ini, terlalu banyak perasaan yang ingin ku rayakan. Jelasnya,
aku tidak punya waktu untuk sekedar menulis blog tidak bermutu ini karena aku
disibukkan untuk mewujudkan ekspektasi manusia lain terhadapku. Tapi ada satu
hal yang membuatku merasakan adanya sedikit unsur manusiawi dalam diriku. Aku menemukan
banyak manusia baik kepadaku akhir-akhir ini. Entah ia kasihan melihat mukaku
yang begini-begini saja, atau ia merasa nyaman ketika berteman denganku. Ya,
ini perihal pertemanan. Aku sudah memiliki teman, asal kau tau. Tapi entah ia
menganggapku teman atau apa, aku tidak peduli. Mereka ku sebut A,I,U,E,O karena
jumlahnya yang tidak hanya satu. Entah mereka sadari atau tidak, aku selalu
merasa terbantu dalam melewati per-halaman kisah yang dibuat mendramatisir oleh
tuhan hingga saat ini.
Sebenarnya dan yang lebih tepatnya aku yang baru-baru ini bisa menghargai
kehadiran seseorang. Sudah ku bilang, sekarang aku sedikit manusiawi. Pasalnya,
setelah aku mengalami kehilangan yang tidak masuk akal itu, aku baru saja
memahami bahwa banyak orang disekelilingku yang harus kucintai lebih dari motor
kesayanganku. Catat itu! Bahkan mereka mengalahkan motor kesayanganku.
Sungguh ini tulisan yang tidak memiliki arah tujuan, dan ku harap kalian
tidak menyesal membaca ini hingga akhir. Aku ingin mengucapkan terimakasih
kepada teman-temanku yang menjelma menjadi Dark
Chocolate yang disajikan ketika hujan dengan kondisi masih hangat. Dan kalian
yang membaca hingga akhir tulisan ini. Terimakasih sudah berkontribusi dalam
ceritaku yang seperti skenario drama.
0 komentar:
Posting Komentar