Rabu, 29 September 2021


"Gambar yang ku buat untuk diriku sendiri"

Ada salah satu akun anonim yang kutemui. Ku sebut anonim karena aku tidak tau dibalik akun itu siapa, dan secara tidak sadar aku membaca seluruh tulisannya. Ia mengingatkanku pada diriku dua tahun silam. Tentang kekhawatiran, kegelisahan, kesepian yang tidak ada ujungnya, ketakutan oleh hal-hal yang tidak penting dan perasaan-perasaan yang aku rasa hanya aku yang menderita seperti ini dimuka bumi.

Aku mengkhawatirkan sesuatu yang bukan jangkauanku. Mengkhawatirkan masa depan, atau sekedar "besok aku akan melakukan apa ya?". Pertanyaan yang ku berikan  pada diriku sendiri ini dapat kupikirkan hingga tengah malam dan kesulitan untuk tidur. Pada akhirnya pikiranku mulai liar dan tidak berjalan semestinya. Aku mulai memikirkan, besok aku akan menjadi sukses tidak ya? Apakah esok aku akan ditanyai oleh dosen ketika dikelas? Apakah besok aku akan mendapat pujian dari orang tuaku karena aku memenangkan lomba?. Dan pertanyaan-pertanyaan ringan ini berubah menjadi, "memangnya kamu bisa sukses??", "memangnya dosen mengenalmu?", "memangnya sudah pasti kamu yang menang?".

Kurang lebih selama dua tahun aku mengalami hal ini. Tidak tau bermula sejak kapan. Aku dengan ketakutanku, kekhawatiranku, dengan segala perasaanku sendiri yang perlahan membuatku berada pada lubang gelap yang seakan-akan dijauhi oleh manusia. Aku tidak tahu betul ini perasaan seperti apa. Yang jelas pada saat itu aku merasa Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk diriku sendiri.

Lambat laun aku semakin dalam pada lubang gelap ini. Ya, rasanya aku sedang berada dalam lubang yang pengap, panas dan tiba-tiba dingin, tidak mendengar suara siapapun, dan aku semakin mengutuk diriku sendiri. Entah aku yang mulai nyaman dengan kegelapan dan kesendirian ini, lambat laun aku menjauhi semua orang di sekelilingku. Sebelumnya aku tidak seperti ini saat masih sekolah. Ini bermula pada aku lulus dari SMA. Sebelumnya aku memiliki banyak teman dan bahkan ku rasa Saaangat banyak dan aku bukan seseorang yang suka membuat masalah, jadi ku pastikan temanku tidak ada yang dendam denganku.

Aku mulai mengisolasi diriku sendiri pada dunia yang kuciptakan. Mengkhawatirkan diriku sendiri, marah dengan pikiranku sendiri, hingga aku kesal melihat diriku sendiri. Rasanya tidak ada yang benar ketika aku melihat diriku sendiri. Aku sempat merasakan hening ketika dalam kerumunan. Ketika di kampus dan berkumpul dengan 'genk' (Ya, aku masih memiliki circle pertemanan di kampus) mereka tertawa dan aku tidak tau apa yang mereka tertawakan. Hingga pada perjalanan pulang aku merasa diriku semakin aneh dan sampainya di kost aku mulai menyalahkan diriku sendiri.

Hampir 2 tahun tinggal di jogja yang katanya kota 24 jam untuk mahasiswa, dan selama 2 tahun pula aku tidak pernah ikut berkumpul teman-temanku untuk sekedar ngobrol di warung kopi. Karena setiap aku merasakan keheningan dalam keramaian, setelah itu aku akan menyalahkan diriku sendiri, dan aku semakin membenci diriku sendiri.

Aku mulai terbiasa sendiri, melakukan apapun sendiri, dan kemanapun sebisa mungkin aku sendiri. Hingga pada saat aku mengikuti salah satu event kesenian (Aku sangat suka kesenian), dan saat itulah pertamakali aku merasakan telingaku berdengung dan aku tidak nyaman dengan tepuk tangan mereka. Awalnya aku kira itu karena telingaku sakit, ternyata bukan. Setelah aku keluar gedung, aku merasa sedikit tenang dan aku baik-baik saja. Hampir gila rasanya.

Aku juga pernah melakukan kesalahan kecil dan sangat kecil. Ya, saat buru-buru aku berjalan ke kampus, tidak sengaja aku menabrak ibu-ibu yang sedang mengantri di ATM. Ibu-ibu itu tidak mengatakan apapun hanya melemparkan pandangan yang tidak mengenakkan padaku. Kalian tau apa yang ku lakukan? Aku izin tidak masuk kelas, aku kembali ke kost dan aku menangis sejadi-jadinya hanya karena kejadian itu. Aku ingat betul mengapa aku menangis, ya lagi-lagi aku menyalahkan diriku sendiri. "Coba aja kamu tadi ga kelamaan mandinya". "Coba aja kamu tadi udah persiapan" dan banyak perkataan-perkataan yang menyalahkan diriku sendiri. Gila rasanya. Dan itu hanya salah satu contoh kejadian yang dapat menjadikan ku semakin merasa buruk.

Sampai pada suatu hari aku mulai menceritakan ini pada satu orang, dan dia menyarankan ku untuk mengaji, mendengarkan motivasi-motivasi, dan yang lainnya. Ku lakukan semuanya, ku peraktikkan semuanya sampai aku hafal perkataan-perkataan motivator. Tapi itu semua tidak membuatku merasa baikan. Justru ketika motivator mengatakan, "kamu pasti bisa" diriku mengatakan, "sialan, kenapa aku tidak bisa".

Terlalu panjang jika ku tuliskan. Saat ini aku belum sepenuhnya merasa sembuh. Hanya saja aku merasa baikan. Bukan karena mendengarkan motivator setiap pagi, dan membaca kalimat-kalimat motivasi di instagram. Aku mulai merasa sedikit baikan ketika aku membangun kenyamanan dalam lubang gelap yang ku buat sendiri. Aku tidak akan memaksa diriku untuk keluar. Aku hanya perlu menyediakan lampu jika itu gelap. Aku hanya memperindah ruangan jika ku rasa terlalu senyap. Aku hanya perlu berbicara ketika ku rasa ruang itu hening. Aku hanya perlu diam ketika aku merasa bising. Bukan orang lain yang menghias, bukan orang lain yang berbicara, bukan orang lain yang berperan pada diriku. Karena pada dasarnya aku sendiri yang membangun ruang untuk diriku sendiri.

Setiap manusia memiliki fase terendahnya. Aku tidak akan memaksa diriku atau orang lain untuk menolak fase itu, karena itu hanya akan berujung memandang tidak pantas diri sendiri. Akan ku ajak menikmati keterbelenguan ini, kedepresian ini,  dan kegilaan ini, hingga kita mampu merubah ruang kosong menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk diri kita.

Aku sedang tidak memotivasi, aku ingin mengatakan perasaan gila seperti ini dialami oleh banyak manusia. Aku yakin, bahkan yang membaca ini hingga akhir juga sebenernya sedang mengalami. Ini masih ada kelanjutannya, tentang perasaan manusiawi yang lainnya. 

Karya penulis

Musim Corona yang mendramatisir umat yang katanya manusia. Tercatat sekitar 69% masyarakat mengalami masalah psikologis dengan 67% mengalami gejala depresi dari 2364 responden berdasarkan data swa periksa yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia. Sayangnya hal ini masih dianggap sepele oleh masyarakat Indonesia. Tidak jauh-jauh dari lingkungan kita sendiri misalnya. Jika ada seseorang yang mengalami depresi biasanya dibilang,

“Kurang deket aja itu sama tuhan,”

“Halah, kamunya aja yang terlalu dipikir,”

“Dibuat santai aja kali ah,”

Bahkan, parahnya ada juga yang sampai disuruh ruqyah, disuruh ke dukun dan lain sebagainya. Masyarakat kita justru membiasakan diri terbelenggu dalam lingkaran Toxic Positivity. Yaitu, hal-hal yang terlihat baik tetapi berdampak buruk untuk mental kita. Begitu juga aku yang masih kerap menjadi pelaku Toxic Psitivity. Misalnya nih, ada temen yang bercerita tentang masalahnya. mungkin niat kita baik ya, dan bisa saja tidak memiliki niat khusus ketika mengatakan “Coba kamu lebih sabar lagi”, “Yaudahlah, biarin aja nanti kamu juga bakal lupa sendiri”, “Coba kamu lebih bersyukur lagi deh” dan kalimat-kalimat yang kerap kita katakana kepada seseorang yang sedang bercerita. Atau bahkan parahnya lagi malah nyuruh buat mengubur dalam-dalam perasaan atau emosi itu. 

Perasaan marah, kesal dan perasaan yang dianggap negative lainnya tidak selamanya buruk dan harus dihindari. Hanya saja kita hidup di masyarakat yang mana menganggap perasaan negative itu buruk dan perasaan positif itu baik. 

Padahal perasan negative yang kita rasain selama ini ternyata tidak semuanya buruk. Dengan kita jujur kepada diri kita sendiri dan apa yang kita rasain, entah itu marah, entah itu sedih, kesal dan sebagainya justru dengan menerima perasaan itu membuat kita mamhami betul apa yang diri kita butuhkan. dan mengetahui cara merespon perasaan tersebut. 

Begitu juga dengan merespon permasalahn orang lain. Kita bisa menjadi pendengar yang baik dan tidak berpendapat tanpa dimintai. Karena tidak jarang seseorang yang sedang bercerita dia hanya ingin sekedar didengar saja. 

Aku tau ini tidaklah mudah. Tetapi memendam kemarahan dan kesedihan dengan berpura-pura untuk baik-baik saja juga tidak menyelesaikan permasalahnmu. Mungkin sementara akan terlihat baik-baik saja. Tapi percayalah, sampah yang ditumpuk terus-menerus akan mengeluarkan bau yang lebih busuk ketika meledak. Karena tuhan sendiri menciptakan manusia dengan berbagai perasaan yang diberikan. Maka, bukan hanya perasaan bahagia saja yang harus dirayakan. Sesekali kita coba rayakan kesedihan, nikmati ketidakjelasan perjalanan kita, nikmati perasaan kehilangan dan sebagainya.

Aku bukan berkampanye tentang kesehatan mental. Ini hanya tulisan yang ku ketik karena aku merasakan sendiri bagaimana rasanya berusaha baik-baik saja dan menympan kesedihan sendiri dalam jangka waktu yang lama. Ini tidak akan menyembuhkanmu dan membuatmu merasa baik. Tidak lain kamu hanya menunda untuk bersedih. 


Pic from google

 "Hidup bisa memberi segala, kepada semua yang mau mencari tau dan pandai menerima."

-Nyai Ontosoroh

Sebuah kutipan yang ku dapatkan dari film Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Selain itu film ini diangkat dari karya Pramoedya Ananta Toer. Buku pertama dari Tetralogi Buru yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980 dan karya ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer pada saat masih berada di Pulau Buru.

Karya yang fenomenal ini mengisahkan tentang pemuda bumi putera yang memiliki nama julukan Minke sekaligus siswa HBS (sekolah untuk belanda, dan ningrat atau pejabat pada masa itu). Suatu hari Minke bertemu dengan wanita Indo (keturunan pribumi dan belanda) namanya Annelies Mellema. Mereka saling jatuh cinta dan berupaya untuk bersatu.

Justru bukan romansa kolonial yang membuatku tertarik untuk membahas karya ini, melainkan sosok Nyai Ontosoroh. Seorang nyai (selir) yang dimana dia adalah ibu dari Annelies Mellema. Pemilik nama asli Sanikem. PramoedyaAnanta Toer berhasil menciptakan sosok wanita tidak biasa. Sosok wanita yang tidak mementingkan tingkatan sosial, jabatan, dan kedudukan. Dalam diri Nyai Ontosoroh seperti sudah tertanam  "semua manusia setara dan sama". Mengingat kondisi pada masa itu seorang nyai atau gundik dipandang sangat rendah oleh masyarakat bahkan tidak jarang diperlakukan bukan seperti manusia.

Menurut Ontosoroh, satu-satunya hal yang dapat dilakukan untuk melawan penghinaan, kebodohan, dan kemiskinan adalah dengan belajar. Sehingga tidak ada perasaan untuk berkecil hati di hadapan para Kompeni atau biasa disebut 'Inlander' pada masanya. Hal ini dibuktikan oleh Nyai Ontosoroh. Beliau belajar menulis, membaca, berbicara menggunakan bahasa belanda, belajar manajemen keuangan, hingga mampu mengatur seluruh keuangan dan menjadi pemilik Perusahaan Pertanian Buitenzorg.S.
Pribadi yang tegas, lugas, anggun, dan berwibawa adalah komponen utama dalam pembentukan Nyai Ontosoroh. Lagi-lagi Pram tidak pernah gagal menciptakan tokoh dalam karyanya. Ini hanya sepenggal tentang Nyai Ontosoroh.

Tidak perlu termotivasi oleh ini, aku hanya bercerita. Apalagi mencetak diri sebagai Ontosoroh selanjutnya. Karena ku rasa, Ontosoroh tidak suka ditiru (Aku hanya sok tau saja). Karena sebenarnya aku juga tidak tau mengapa Nyai Ontosoroh memiliki kepribadian sekuat itu. Mungkin karena latar belakang seorang Nyai (gundik) dan kesetaraan sosial yang dijunjung tinggi pada masa itu. Sehingga dia ingin membuktikan bahwa dia bisa sejajar dengan bangsa eropa pada masa itu.
Aku tidak bisa membayangkan jika ada Ontosoroh hidup pada masa sekarang. Sepertinya dia juga tidak jauh berbeda dengan kita. Scroll Tiktok berjam-jam, mengeluh tidak punya kegiatan sedangkan judul sekripsi saja tidak punya dan malah asik mengetik hal seperti ini.

Lagi-lagi juga aku yang mengagumi banyak manusia hebat dan tetap saja aku berada pada lingkaran 'kehidupan' yang kuciptakan dengan komposisi kemalasan 20%, menunda pekerjaan 20%, mengerjakan hal tidak penting 20%, tidak konsisten 20%, dan 20% lainnya gabungan dari semangat, mimpi, usaha, tekat, keseriusan, dan ambisi.

Baru saja aku membunuh diriku sendiri dengan penilaian tidak berguna, kita bahas dilain waktu ya tentang 'diri yang membunuh diri sendiri'

See u next time!

Selasa, 28 September 2021


Kalian tau istilah "Inherited opinion. Believing  something because someone gold you so." (Mempercayai sesuatu, hanya karena orang lain ngasih tau kita) kalimat ini aku kutip dari salah satu video beropini dari Gita Savitri. Dalam video tersebut menjelaskan kurang lebihnya mengenai pentingnya berpikir kritis.

Memang sudah seharusnya kita mengajarkan atau memperaktikan kepada diri sendiri untuk mengidentifikasi isu yang ada terlebih dahulu. Tanpa harus mengkiaskan pada sesuatu. "Katanya ini, itu. Dan sebagainya".
Perlu berpikir, mengapa aku melakukan ini dan aku tidak melakukan itu. Bukan lagi berada pada fase hanya karena melihat kebiasaan orang banyak yang melakukan kemudian mengikutinya. Jadi kita tahu melakukan sesuatu itu atas dasar apa dan bukan karena melihat apa kebiasaan orang lain.

Kemudian, mengapa kita perlu berpikir kritis?

Pertama, kita akan memilki kebebasan dalam berpikir dan memiliki 100 persen atas keputusan yang telah kita buat.
Kedua, hal Ini dapat membuat kita percaya diri dengan opini dan pemikiran diri yang objektif karena kita sudah mencoba mereduksi bias yang kita miliki.
Ketiga, Menjadi lebih open minded karena kita aware akan argumen atau ide lain yang bisa juga sama-sama valid.
Keempat, akan memahami lebih banyak literasi. Karena tidak terpakai pada satu hal yang sudah ada.
Kelima, terhindar dari manipulasi (media, penipuan seperti berita palsu).

Kemudian, bagimana caranya??
• Berpikir objektif dan seadil mungkin terhadap sesuatu topik atau isu
• Menganalisa faktor-faktor yang terlibat.
• Sadar atas kemungkinan adanya bias (kepentingan terhadap salah satu pihak)
• Mengidentifikasi argumen atau point of view lain yang berkaitan dengan isu tersebut.
• Evaluasi argumen lagi untuk menentukan apakah valid atau tidak.
• Yang terpenting adalah memperhatikan efek dan implikasi dari argumen yang kita buat.

Pemikiran yang telah kita buat tidak selamanya akan valid dalam waktu yang panjang. Perlu adanya evaluasi diri sendiri, dan selalu memperbarui pola pikir agar dapat menempatkan diri ketika menjumpai situasi yang beragam. Berpikir kritis juga tidak bisa kita lakukan setiap saat. Dan perlu diingat kadar kritis seseorang berbeda dengan seseorang yang lain. Lebih mudah jika opini-opini semacam ini kita utarakan dan sampaikan melalui tulisan atau sekedar berbincang. Karena sudah pasti akan menjadi benang kusut jika hanya berhenti dalam kepala.

Mari kita sebar energi positif di sekeliling kita dan bertumbuh bersama. See u next time!

pic: karya penulis
Salah satu foto yang menjadi iklan beasiswa di Instagram berhasil membuatku tertarik untuk menggambarnya. Karena menurutku bagus, yasudah ku putuskan untuk ku gambar. Setelah selesai kugambar aku mencari tau sebenarnya itu gambar apa? dan di mana? setelah mencari tau banyak hal unik yang ku temui dan ingin ku bagikan kepada kalian semua.
Skotlandia
Negara terindah di dunia. Skotlandia merupakan bagian dari Britania Raya dengan Edinburgh sebagai ibukota dan juga merupakan kota terbesar kedua di Skotlandia atau kerajaan Skotlandia. Kota lama dan baru Edinburgh terdaftar sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1995 dan menjadi tujuan wisatawan dunia. Keindahan Skotlandia tidak dapat dipungkiri, pasalnya Skotlandia memberikan inpirasi kepada penulis fenomenal JK Rowling hingga terciptanya buku Harry Potter. Bagian pertama ditulis oleh JK Rowling pada saat berada di Cafe Elephant House di Edinburgh. Tempat inilah yang hingga saat ini disebut sebagai tempat kelahiran Harry Potter. 
Skotlandia juga memiliki kantor pos tertua di dunia loh. dalam artikel yang dimuat oleh idntime.com mengakatan bahwa kantor pos Sanquhar yang terletak di Dumfries dan Galloway merupakan kantor pos tertua di dunia yang beroperasi. Kantor pos ini dibuka pertama kali pada tahun1712 dan beroperasi hingga saat ini. Nah, dari sinilah jasa layanan pos merambah hingga berbagai belahan dunia. Uniknya lagi nih, layanan pertama kalidi kirim oleh orang yang menaiki kuda. 
Jadi, apakah kalian tertarik untuk berkunjung kesana untuk sekedar minum secangkir teh di musim dingin?
masih banyak keunikan yang belum tertulis disini. Mungkin bisa kita lanjutkan lain waktu. see u next time fren!
 


Karya Penulis


Sialan!! Satu kata yang ku ucapkan ketika peristiwa itu menimpaku dan tidak tau ku tujukan pada siapa. Ya, aku bukan seseorang yang mengatakan kata baik ketika kesal. Peristiwa yang menjadikan ku piatu. Aku sempat marah pada tuhan, mengapa ibu ku?? Mengapa harus aku yang mengalami ini? Apa tidak ada orang lain yang bisa menggantikan ?


Pertanyaan-pertanyaan bodoh yang muncul di kepalaku dan membuatku malu pada malaikat yang menjagaku di sebelah kanan dan kiri. Mungkin malaikat itu berkata, "manusia bodoh". Jika ku dengar malaikat itu berkata demikian, akan ku jawab "kamu tidak pernah merasakan kehilangan kan malaikat?".

Aku memang manusia yang keras kepala dan sering berpikir tidak masuk akal. Sepertinya dua malaikat ini sudah mengenalku dengan baik, dan sudah semestinya mereka tidak kaget dengan kelakuanku saat itu.

Mungkin Tuhan juga menyesal menciptakanku dan membiarkan aku tumbuh dengan baik di Bumi karena aku mempertanyakan hal-hal yang bodoh padaNya. Tetapi tuhan tidak seperti manusia, aku yakin tuhan akan memahami perasaan hambanya saat itu.

Selang beberapa jam, aku mengucapkan kalimat "Astagfirullah". Kalau dalam agamaku, itu semacam kalimat penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan. Yaaa, aku menyesal telah menjadi manusia bodoh selama beberapa jam sebelumnya.

Butuh beberapa hari untuk mendapatkan jawaban-jawaban atas pertanyaan bodoh yang ku tanyakan pada tuhan. Tidak, aku tidak mendapat wahyu secara langsung. Perlahan aku memahami rencana tuhan. Tuhan tidak sejahat itu padaku, tuhan sudah merencanakan yang terbaik untukku dan juga ibuku. 

Kehilangan seseorang yang kita cintai memang tidaklah mudah untuk mengiklaskan. Aku belajar bahwa kita tidak perlu melupakan mereka yang sudah tidak ada. Kita perlu mengenang mereka setiap saat dan sampai waktu yang tidak ditentukan. Dengan begitu mereka akan tetap hidup dalam diri kita.

Kematian bukanlah hal yang perlu disesali dan saling menyalahkan salah satu pihak atau diri sendiri dan seraya berkata "andai saja.....". Perkataan 'andai saja' tidak akan mengembalikan situasi yang ada saat ini. Kita hanya perlu berjalan, dan ditemani dengan kenangan yang kita miliki. Semuanya masih terasa sama meski bertambahnya waktu menjadikan kenangan lambat laun akan memudar. Dengan begitu kita tidak akan ada waktu untuk menyesali yang sudah terjadi. 

Sebenarnya aku tidak perlu menulis permintaan maaf kepada tuhan lewat blog ini. Karena tuhan pasti sudah mengetahui isi hati seorang hampanya. Lagi pula, aku menulis blog ini dengan sedikit meng-edit beberapa kalimat agar terlihat mendramatisir. Ya kalau ku tulis sesuai isi hatiku, justru akan lebih terlihat bodoh diriku.

Jika kalian membaca ini hingga akhir dan tidak memahami maksudku. Ku persilahkan untuk meninggalkan komentar di bawahnya. Dan akan ku perbaiki lagi. Dan jika ada yang kalian tanyakan silahkan tuliskan kalimat tersebut dalam kolom komentar. See next time!

pic: karya penulis

 Hai.

Namaku iim. Perkenalkan, mahasiswi akhir yang sampai saat ini masih pusing karena melihat teman-temannya yang ambisius soal tugas akhir.

Aku bukannya sedang bersantai, hanya saja aku belum menemukan kegairahan untuk mengerjakannya.
Apa? Kamu mengatakan aku cuma alasan?

Hei, asal kamu tau ya. Mengerjakan sesuatu yang dipaksa itu tidak akan melekat lama. Jadi, aku mencoba sedikit santai meskipun hampir sinting rasanya.

Dahlah, intinya kamu juga baca ini hingga akhir kan. Tunggu updatean setiap minggunya ya.

Ini akan berisikan banyak hal. Mulai dari manusia, setengah manusia, hingga seperempat manusia akan ku tuliskan disini.

Blogroll

BTemplates.com

Popular Posts