Seumur Hidup
Terlalu Lama Untuk Manghadapi Kekerasan Mental
Dalam sebuah hubungan pasti kalian pernah mendapati sebuah perilaku yang berbeda dalam individu setiap orang. Akhir-akhir ini banyak sebuah isu yang hangat diperbincangkan oleh taman sekelilingku. Bahkan salah salah seorang teman yang menceritakan secara pribadi kasus yang ia alami dalam hubungan yang ia jalin hingga saat ini. Yaitu kasus kekerasan emosional atau yang bisa disebut dengan emotional abuse. Ia telah menjalin hubungan itu selama lebih dari satu tahun. Singkat cerita ia merasa normal-normal saja pada enam bulan pertama. Kemudian, mulai muncul sikap posesif dari pasangannya. Seperti halnya pasangannya membatasi atau bahkan sampai melarang untuk sekedar bertemu teman lama jika tanpa didampingi olehnya. Lambat laun, temanku ini (sebut saja AK) merasa hubungan mereka sudah tidak nyaman dan ia memutuskan ingin mengakhiri hubungan tersebut. Karena selain posesif, pasangan AK ini juga sering mencubit atau melakukan tindakan fisik ketika menegur AK. Tidak disangka, saat AK ingin memutuskan hubugannya, justru respon yang diterima AK adalah sebuah ancaman. Ia mengancam akan bunuh diri jika AK benar-benar meninggalkannya. AK pun hingga saat ini masih berada dalam hubungan tersebut. Alsannya ia takut jika pasangannya benar-benar bunuh diri, dan hal tersebut membuat AK menyalahkan dirinya sendiri dan merasa itu dikarenakan oleh dirinya.
Setelah sedikit membaca tulisan-tulisan tentang isu psikolog, ada sebuah penjelasan dari buku The Emotionally Abusive Relationship karya Beverly Engel yang menjelaskan bahwa ada tiga kekerasan dalam sebuah hubungan.
1. Sexual abuse yaitu sebuah pemaksaan dalam kegiatan seksual seperti memeluk, mencium, meraba hingga memaksa melakukan hubungan seksual.
2. Physical abuse yaitu perlakuan kasar yang menyebabkan luka pada fisik seperti memukul, menampar, menendang, mendorong dan perilaku-perilaku yang menyebabkan luka pada fisik.
3. Emotional abuse yang biasa dikenal dengan kekerasan emosional. hal ini sulit untuk dikenali karena tidak terlihat secara langsunng dampak yang diperoleh. kekerasan emosional ini seperti mengintimidasi, mengancam pasangan, dan segala perilaku yang menekan emosional orang lain.
Dari pengalaman yang dialami oleh temanku juga cerita yang banyak aku dengarkan dari kenalan-kenalan mereka, menurutku hubungan yang tidak sehat seperti itu masih kerap kita jumpai. Bukan hanya perempuan yang menjadi korban. Banyak juga laki-laki yang menjadi korban atas kekerasan emosional oleh pasangannya. Sedikitnya ada 6 kasus yang dialami oleh kenalanku tentang kekerasan dalam sebuah hubungan.
Jika pada kasus kekerasan seksual dan kekerasan fisik, keduanya memiliki bekas atau dampak yang terlihat oleh mata. Berbeda dengan dampak terjadikan kekerasan emosional. Engel dalam bukunya menyebutkan beberapa dampak yang dapat dialami oleh seorang korban. Seperti:
1. Mengalami depresi
2. Berkurangnya motivasi
3. Merasa mudah atau sering kebingungan
4. Kesulitan untuk berkonsentrasi
5. Rendahnya kepercayaan diri
Kemudian dampak
secara emosional dapat menimbulkan perasaan cemas dan rasa takut yang
berlebihan. Sehingga ini menyebabkan korban mengalami kesulitan untuk mencari
jalan keluar atau sekedar menceritakan pada orang lain.
Namun hal
ini bukanlah akhir dari segalanya. Menerima sikap pasangan yang toxic dan
memilih untuk bertahan bukanlah pilihan yang baik. Namun tidak menutup
kemungkinan ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebelum memutuskan untuk
tetap tinggal. Seperti halnya, mencoba untuk berdiskusi dan berbicara baik-baik
dengan pasangan tentang sikap yang tidak semestinya dilakukan. Seperti mengancam
bunuh diri, melukai diri dan ancaman-ancaman lainnya bukanlah cara yang tepat untuk
membuat pasangan tetap bertahan dalam hubungannya. Aku menulis opini ini bukan
hanya untuk seseorang yang disebut korban, tetapi mungkin saja kita sendiri
yang juga memiliki indicator melakukan emotional abuse terhadap pasangan kita
maka alangkah baiknya jika mulai saling berdiskusi untuk saling memahami dan
menerima. Terlebih jika bisa saling memperbaiki, tentu berpisah bukan jalan
satu-satunya.
Emotional abuse
sejatinya tidak hanya terjadi pada hubungan kita. Hal ini dapat terjadi pada
lingkungan pertemanan, lingkungan kerja. Atau bahkan keluarga. Menurutku untuk
menghancurkan mental seseorang atau menyakiti mental seseorang tidak hanya bisa
dilakukan dengan sebuah ancaman. Tetapi penekanan berlebih dari seseorang
terhadap kita guna mencapai tujuan dan maksud orang tersebut. Menurutku emotional
abuse sangat mudah kita dapati dilingkungan sehari-hari. Dan dapat dialami oleh
seorang anak, remaja, murid, istri, suami, dan bahkan orang tua.
Pada zaman
sekarang, mudahnya mengakses sebuah informasi membuat kita mudah tau tentang
istilah-istilah kesehatan mental. Dengan begitu, mempermudah kita untuk menganalisis
emosi pada diri kita, untuk mengkategorikan sikap kita, untuk merespon sikap orang
lain terhadap kita. Merupakan sebuah kewajiban untuk terus mempelajari hal-hal baru
terlebih tentang diri sendiri. Kerap kita tidak menyadari apa yang telah
terjadi pada diri kita, karena kurangnya pengetahuan tentang hal tersebut. Sehingga
banyak diantara kita yang masih saja bertahan pada hubungan yang tidak saling
membangun, melainkan melemahkan daya mental kita.
Tulisan ini
tidak bermaksud untuk menggurui siapapun. Melainkan bertujuan untuk saling
hidup dengan nyaman dan juga memberikan kenyamanan. Banyak cara yang bisa kita
lakukan untuk mengambil sebuah keputusan dalam hidup. Tetapi, untuk memutuskan
suatu hal perlu adanya pengetahuan sebagai dasar mengambil keputusan. Dengan begitu,
dapat meminimalisir penyesalan dikemudian hari. Seumur hidup itu terlalu lama
jika kalian memutuskan untuk tetap bertahan pada seseorang yang pelan-pelan
menghabiskan energi positifmu.

Aku aku aku aku aku beribu-ribu kali sadar tpi ttp engga tau mau diapain
BalasHapus