Sabtu, 29 Juli 2023

 



LIFESTYLE ALA MAHATMA GANDHI

Siapa diantara kalian para pembaca yang tidak mengenal Gandhi? Sudah tidak asing bukan dengan seorang pria yang berasal dari india yang mendapat gelar kehormatakan Mahatma Gandhi. Mahatma sendiri berartikan “jiwa yang agung” dari Bahasa Sansekerta. Gelar kehormatan itu didapatnya saat ia bertugas di Afrika. Pada saat itu ia bertugas sebagai pengacara kontrak di Afrika. Pada saat ia bertugas, ia mengalami dan menerima ketidakadilan serta diskriminasi sebagai orang india. Singkat kisahnya, gelar tersebut didapat karena perjuangan Mahatma Gandhi yang menentang diskriminasi rasial yang ada di Afrika Selatan pada saat itu. Gandhi memiliki nama asli Karamchad Gandhi. Jika kalian ingin mengetahui biografi lengkapnya, kalian bisa mencarinya sendiri dan mengenalnya. Atau lebih baik ku sarankan untuk membaca buku Autobiografi Mahatma Gandhi yang ia tulis atas paksaan rekan-rekan terdekatnya yang sempat terhenti karena perkara ia menjalani masa tahanan di Yeravda.

Tujuan saya menulis tentang Mahatma Gandhi bukan semata-mata ingin menuliskan biografinya. Tetapi saya memiliki sudut penilaian yang ingin saya sampaikan pada rekan-rekan sekalian melalui tulisan ini. jika kalian telah mengenal atau sekedar tahu perihal Mahatma Gandhi tentu kalian juga tidak asing dengan Gerakan-gerakan yang ia serukan. Yaitu kebenaran, kemanusian, vegetarisme dan Gerakan perdamaian lainnya. Tapi, siapa sangka ia hanyalah seorang anak laki-laki yang paling pemalu diantara saudara-saudaranya. Anak laki-laki yang harus menerima takdir pernikahan muda dengan alasan penghematan biaya maka ia dinikahkan bersamaan dengan pernikahan kakak keduanya.

 

Titik Balik Pada Proses

Mahatma Gandhi dalam proses mencapai sebuah prinsip akan kebenaran, ia hanya seorang anak laki-laki yang pernah melakukan kebohongan besar kepada ayah dan ibunya. Bahkan ia mengakui dalam hidupnya ia melakukan sebuah penyesalan besar yang ia sendiri tidak bisa mengampuni perbuatan tersebut. Hal tersebut ialah, pertama karena ia telah melewatkan detik-detik kepergian ayahnya dan lebih menikmati malamnya dikamar tidur bersama istrinya. Mahatma Gandhi menyebut kejadian tersebut dengan istilah “nafsu badani”. Meski mungkin menurut kita hal tersebut dapat diwajarkan bagi sebagain kalangan, tapi menurut saya kembali lagi kepada sikap kita memandang kadar kepentingan sebuah peristiwa. Mungkin peristiwa tersebut sangatlah penting dan akan menjadi sebuah penyesalan jika ia melewatkan begitu saja.

“dibutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu, dan saya harus melewati beragam cobaan berat sebelum akhirnya berhasil mengatasinya”

Yang kedua adalah, Mahatma Gandhi pernah melakukan sebuah kecurigaan terhadap istrinya. ia mengatakan sebuah penyesalannya sebagai berikut. “dan saya tidak pernah memaafkan diri atas kekejaman yang merupakan kesalahan karena telah menyakiti istri saya dengan bertindak menurut informasi teman saya, karena itu saya memandang Wanita adalah sebuah ingkarnasi dari toleransi.”

Dari kisah tersebut saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki sisi kelam yang mungkin ia sendiri tidak bisa memafkannya. Hal tersebut adalah kisah yang wajar dialami oleh manusia yang sedang berproses.

 

Penerimaan Diri

Semakin saya mengenal dan membaca tulisan yang ia tulis atas dirinya sendiri, saya menemukan sesuatu yang tidak pernah terlepas dari anggapan saya. Yaitu, “Mahatma Gandhi adalah seorang anak yang biasa seperti kita”. Ia pernah mengalami sebuah kekesalan kepada orang tuanya sebelum ia menyadari bahwa hal tersebut adalah yang terbaik untuknya, ia pernah menggerutu demikian,

“Akhirnya saya belajar bahwa semua kesenangan dan kebahagiaan terus dikorbankan demi layanan ketaatan pada orangtua saya”.

Saya cukup kaget membaca kalimat tersebut. Bahkan seorang penggerak kebenaran saja pernah kesal pada orangtua yang memegang seluruh kendali atas mimpi anaknya. Tentu menjadi sebuah refleksi pada diri saya bahwa ini wajar terjadi dan mulai saat itu saya tidak pernah lagi membesarkan perkara orang tua yang tidak sependapat dengan saya. Karena saya berpikir bahwa, orangtua Mahatma Gandhi saja demikian.

 

Pertemanan non toxic

ada lagi yang menurut saya ini sangat relate dengan kehidupan kita saat ini. meski ini dari seseorang yang jauh lebih dulu hidup dari zaman kita.

“sejak itu saya sadar jika saya telah salah mengira, seorang pelopor tak mampu memiliki keakraban dengan ia yang ingin dipebarui”

“saya berpendapat bahwa segala pertemanan eksklusif harus dijauhi, karena manusia jauh lebih siap menerima keburukan dibanding kebaikan,”

Kalimat tersebut ia ujarkan karena sebuah pertemanan yang dianggapnya justru membawa kesebuah kesalahan besar. Seperti membohongi keluarga, melakukan hal-hal yang dilarang oleh agamanya dan segala keburukan yang ia bangun sembari membangun pertemanan yang eksklusif tersebut.

Point yang ingin saya sampaikan adalah, perlu adalanya sebuah batas dalam segala hal yang berusuran dengan manusia. Karena memang, pada nyatanya sebaik apapun kita akan tetap terpengaruhi oleh lingkungan yang kita sebut sebuah pertemanan. Tentu ini adalah hal yang penting untuk kita perhatikan dikemudian hari. Karena memang mawas diri bukanlah hal yang salah atau kaku. Justru dengan begitu kalian akan selamat dari ketidak-enak-an, kesungkanan yang berujung ikut andil dalam proses pembentukan habits selanjutnya. Lagi-lagi anggapan itu muncul di kepala saya, bahwa Mahatma Gandhi pun pernah merasakan pertemanan yang membawanya dalam hal keburukan hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi pertemanan yang eksklusif tersebut. Baginya jika ingin berteman dengan Yang Maha Esa harus tetap sendirian atau berteman dengan seluruh dunia. Ia tidak mengatakan untuk menjauhi hubungan dengan manusia. jadi ini sebuah Tindakan yang perlu ditiru menurut saya.

 

Moralitas

Kemudian, saya juga tertarik pada sebuah perkataan tetang proses menuju kebenaran itu sendiri. Sebelum ia mencapai tahap kebenaran, ia adalah seseorang yang pernah melakukan kebohongan besar terhapa ayah juga ibunya, juga ia melakukan sebuah larangan dalam agamanya. Ia mengatakan, “bahwa tak akan ada pembersihan tanpa pengakuan”. Bagi saya ini sebuah kalimat yang ajaib. Yang cukup membuat saya marasa bahwa ini adalah inti dari pembersihan diri menuju sikap adil sejak dalam pikiran. Dari peristiwa pengakuan tersebut akhirnya memabawanya ketahap ‘kebenaran’ itu sendiri. Ia juga memiliki prinsip bahwa moralitas adalah dasar dari segala hal, dan bahwa kebenaran adalah substansi dari segala moralitas. Artinya jika tujuannya adalah mencapai sebuah kebenaran, maka moralitas adalah jalannya. Sehingga saya menyimpulkan bahwa moralitas adalah awal dan sumber dari segala kebaikan. Termasuk dengan kebenaran. Kebenaran adalah buah dari moralitas yang baik.

 

Memberi makan pikiran

Pada saat Mahatma Gandi berusia 18 tahun, ia memutuskan untuk melanjutkan belajar ke inggris dan mengambil jurusan hukum. ia berangkat ke inggris dengan tujuan untuk pulang sudah menjadi seorang pengacara. Keberangkatannya ke inggris setelah kematian ayahnya. Perjalannya dalam mencari ilmu, dibarengi dengan ketekatan ia untuk menjadi vegetarian. Yang menjadi factor utama ia memutuskan menjadi vegetarian karena ia telah berjanji pada agama dan ibunya untuk tidak memakan makhluk hidup. Disamping itu, keterbatasan uang saku yang ia miliki sebagai mahasiswa perantauan. Ini juga membuat saya sadar, bahwa proses menghemat juga terjadi pada Mahatma Gandhi. Sekali lagi, ini menjadi reminder bagi saya pribadi untuk lebih lebih bersyukur kedepannya.  Sebenarnya menghemat bukanlah alasan utamanya, tetapi seiring waktu dan penyesuaian keadaan maka hal tersebut menjadi alasan yang paling masuk akal. Jadi, menurut saya alasan dapat dirubah, asal tujuan tetap sama maka kita bebas memakai cara apa unutk mempertahankan tujuan utamanya.

Perlu diingat, jangan sampai kita mengira bahwa gaya hidup Mahatma Gandhi dianggap menyedihkan. Sebaliknya, perubahan itu mengharmonisasikan kehidupan batin, fisiknya, dan juga sesuai dengan batas kemampuan keluarganya. Justru ini adalah point yang perlu kita tiru juga untuk menjalani kehidupan. Bahwa keinginan dan kebutuhan saja tidak cukup dijadikan sebagai pondasi dalam mengambil sikap. Tentu pertimbangan kemampuan itu cukup berpengaruh dalam pengambilang sikap. Lagipula yang perlu kita sadari adalah makan bukan untuk bersenang-senang tapi untuk hidup. Karena sesungguhnya pusat rasa bukan berada pada lidah, tapi pikiran.

 

Insecure Itu Wajar

Selain kehidupan yang cukup sulit di inggris sebagai mahasiwa perantauan, ada fakta yang menarik untuk kita ketahui. Bahkan seorang Mahatma Gandhi merasakan sebuah sikap keminderan, insecure/ ketidakpercayaan diri. Ia pernah mengaku demikian,

“namun sekalipun Pendidikan saya selesai tak begituu dengan rasa tidak berdaya dan takut saya. Saya merasa diri saya tidak memadai untuk memperaktikkan hukum.”

“…tapi saya sangat ragu apakah saya mampu bahkan untuk mencari nafkah dengan profesi ini.”

Sungguh, pengakuan tersebut membuat saya sedikit lega. Paling tidak perasaan ketidakpercayaan diri itu wajar dan benar adanya. Artinya itu biasa terjadi pada manusia. Maka kita tidak perlu untuk larut-larut dalam ketidakpercyaan diri. Menurut saya, ketulusan dan semangat yang biasa-biasa saja sudah cukup untuk mencari nafkah.

 

Minimalism

Terakhir dalam bab tulisan ini, saya ingin menyampaikan kekaguman saya terhadap pola hidup minimalism. Mahatma Gandhi sempat berada pada sikap mendandani dirinya ala pria inggris yang modis. Tetapi pada suatu hari ia bertemu dengan seorang kawan yang sama-sama dari india, ia disadarkan oleh temannya tersebut yang mengakatan,

“saya bukan seorang yang modis seperti anda. Sejumlah kecil makanan dan sejumlah kecil pakaian sudah cukup bagi saya.”

Ini adalah konsep minimalism yang sangat penting untuk kita pahami saat ini. tentu banyak keributan dalam pikiran kalian jika kalian juga menginginkan begitu banyak hal dalam hidup kalian. Sederhanaya, jika kalian menjadikan segala hal sebagai prioritas kebutuhan, maka itu sama halnya menyulitkan diri sendiri atas pikiran kalian.

 

Saya memiliki kalimat yang manis untuk dijadikan sebagai penutup tulisan ini. yaitu:

cita-cita Gandhi tentang cara hidup adalah sebuah cita-cita yang sempurna untuk manusia-manusia yang tidak sempurna.

 


Minggu, 09 Juli 2023

 


Seumur Hidup Terlalu Lama Untuk Manghadapi Kekerasan Mental

        Dalam sebuah hubungan pasti kalian pernah mendapati sebuah perilaku yang berbeda dalam individu setiap orang. Akhir-akhir ini banyak sebuah isu yang hangat diperbincangkan oleh taman sekelilingku. Bahkan salah salah seorang teman yang menceritakan secara pribadi kasus yang ia alami dalam hubungan yang ia jalin hingga saat ini. Yaitu kasus kekerasan emosional atau yang bisa disebut dengan emotional abuse. Ia telah menjalin hubungan itu selama lebih dari satu tahun. Singkat cerita ia merasa normal-normal saja pada enam bulan pertama. Kemudian, mulai muncul sikap posesif dari pasangannya. Seperti halnya pasangannya membatasi atau bahkan sampai melarang untuk sekedar bertemu teman lama jika tanpa didampingi olehnya. Lambat laun, temanku ini (sebut saja AK) merasa hubungan mereka sudah tidak nyaman dan ia memutuskan ingin mengakhiri hubungan tersebut. Karena selain posesif, pasangan AK ini juga sering mencubit atau melakukan tindakan fisik ketika menegur AK. Tidak disangka, saat AK ingin memutuskan hubugannya, justru respon yang diterima AK adalah sebuah ancaman. Ia mengancam akan bunuh diri jika AK benar-benar meninggalkannya. AK pun hingga saat ini masih berada dalam hubungan tersebut. Alsannya ia takut jika pasangannya benar-benar bunuh diri, dan hal tersebut membuat AK menyalahkan dirinya sendiri dan merasa itu dikarenakan oleh dirinya.

        Setelah sedikit membaca tulisan-tulisan tentang isu psikolog, ada sebuah penjelasan dari buku The Emotionally Abusive Relationship karya Beverly Engel yang menjelaskan bahwa ada tiga kekerasan dalam sebuah hubungan. 

1. Sexual abuse yaitu sebuah pemaksaan dalam kegiatan seksual seperti memeluk, mencium, meraba hingga memaksa melakukan hubungan seksual.

2. Physical abuse yaitu perlakuan kasar yang menyebabkan luka pada fisik seperti memukul, menampar, menendang, mendorong dan perilaku-perilaku yang menyebabkan luka pada fisik.

3. Emotional abuse yang biasa dikenal dengan kekerasan emosional. hal ini sulit untuk dikenali karena tidak terlihat secara langsunng dampak yang diperoleh. kekerasan emosional ini seperti mengintimidasi, mengancam pasangan, dan segala perilaku yang menekan emosional orang lain.

Dari pengalaman yang dialami oleh temanku juga cerita yang banyak aku dengarkan dari kenalan-kenalan mereka, menurutku hubungan yang tidak sehat seperti itu masih kerap kita jumpai. Bukan hanya perempuan yang menjadi korban. Banyak juga laki-laki yang menjadi korban atas kekerasan emosional oleh pasangannya. Sedikitnya ada 6 kasus yang dialami oleh kenalanku tentang kekerasan dalam sebuah hubungan.

Jika pada kasus kekerasan seksual dan kekerasan fisik, keduanya memiliki bekas atau dampak yang terlihat oleh mata. Berbeda dengan dampak terjadikan kekerasan emosional. Engel dalam bukunya menyebutkan beberapa dampak yang dapat dialami oleh seorang korban. Seperti:

1. Mengalami depresi

2. Berkurangnya motivasi

3. Merasa mudah atau sering kebingungan

4. Kesulitan untuk berkonsentrasi

5. Rendahnya kepercayaan diri

Kemudian dampak secara emosional dapat menimbulkan perasaan cemas dan rasa takut yang berlebihan. Sehingga ini menyebabkan korban mengalami kesulitan untuk mencari jalan keluar atau sekedar menceritakan pada orang lain.

Namun hal ini bukanlah akhir dari segalanya. Menerima sikap pasangan yang toxic dan memilih untuk bertahan bukanlah pilihan yang baik. Namun tidak menutup kemungkinan ada beberapa cara yang bisa dilakukan sebelum memutuskan untuk tetap tinggal. Seperti halnya, mencoba untuk berdiskusi dan berbicara baik-baik dengan pasangan tentang sikap yang tidak semestinya dilakukan. Seperti mengancam bunuh diri, melukai diri dan ancaman-ancaman lainnya bukanlah cara yang tepat untuk membuat pasangan tetap bertahan dalam hubungannya. Aku menulis opini ini bukan hanya untuk seseorang yang disebut korban, tetapi mungkin saja kita sendiri yang juga memiliki indicator melakukan emotional abuse terhadap pasangan kita maka alangkah baiknya jika mulai saling berdiskusi untuk saling memahami dan menerima. Terlebih jika bisa saling memperbaiki, tentu berpisah bukan jalan satu-satunya.

Emotional abuse sejatinya tidak hanya terjadi pada hubungan kita. Hal ini dapat terjadi pada lingkungan pertemanan, lingkungan kerja. Atau bahkan keluarga. Menurutku untuk menghancurkan mental seseorang atau menyakiti mental seseorang tidak hanya bisa dilakukan dengan sebuah ancaman. Tetapi penekanan berlebih dari seseorang terhadap kita guna mencapai tujuan dan maksud orang tersebut. Menurutku emotional abuse sangat mudah kita dapati dilingkungan sehari-hari. Dan dapat dialami oleh seorang anak, remaja, murid, istri, suami, dan bahkan orang tua.

 

Pada zaman sekarang, mudahnya mengakses sebuah informasi membuat kita mudah tau tentang istilah-istilah kesehatan mental. Dengan begitu, mempermudah kita untuk menganalisis emosi pada diri kita, untuk mengkategorikan sikap kita, untuk merespon sikap orang lain terhadap kita. Merupakan sebuah kewajiban untuk terus mempelajari hal-hal baru terlebih tentang diri sendiri. Kerap kita tidak menyadari apa yang telah terjadi pada diri kita, karena kurangnya pengetahuan tentang hal tersebut. Sehingga banyak diantara kita yang masih saja bertahan pada hubungan yang tidak saling membangun, melainkan melemahkan daya mental kita.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui siapapun. Melainkan bertujuan untuk saling hidup dengan nyaman dan juga memberikan kenyamanan. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengambil sebuah keputusan dalam hidup. Tetapi, untuk memutuskan suatu hal perlu adanya pengetahuan sebagai dasar mengambil keputusan. Dengan begitu, dapat meminimalisir penyesalan dikemudian hari. Seumur hidup itu terlalu lama jika kalian memutuskan untuk tetap bertahan pada seseorang yang pelan-pelan menghabiskan energi positifmu. 


Rabu, 05 Juli 2023

 


Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Karya: Mark Manson

Buku yang berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat atau yang berjudul asli “The Subtle Art of Not Giving a F*ck” merupakan karya Mark Manson yang pertama. Buku ini terbit pertama kali di New York, dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2018. Dalam kategori buku terjemahan, buku ini termasuk buku yang mudah dipahami dari sekian banyak buku terjemahan lainnya. Menurut pribadi saya, kalian akan lebih tepat membaca buku ini jika sudah berada pada tahapan ingin mengetahui bagaimana sikap untuk menanggapi suatu problem kehidupan.

Mengingat buku ini merupakan buku self improvement, tentu buku ini sangat cocok untuk kalian yang sering memusingkan pikiran kalian sendiri, yang kesulitan akan sikap mempersulit diri sendiri. Menurut saya, buku ini akan lebih cocok untuk dijadikan sebagai titik balik untuk diri kalian yang sering bertengkar dengan diri sendiri. Terlebih bertengkar karena kalian telah mengkonsumsi stigma masyarakat tidak sesuai dosis yang dianjurkan. Mark Mansion telah berhasil menjadi hakim sekaligus dokter untuk jiwa para pembaca. Pada buku ini, Mark tidak menyampaikan sebuah motivasi-motivasi seperti yang kalian tonton biasanya. Ia hanya menyajikan sebuah fakta, dan beberapa contoh untuk kalian pilih selanjutnya. Sederhananya, buku ini hanya menyajikan sebuah jawaban penyederhanaan pikiran manusia. Mark tidak melebeli suatu sikap ini salah dan ini benar. Ia hanya menyajikan beberapa contoh untuk kita pilih mana yang akan kita jalani. Sehingga menjadikan buku ini cocok untuk segala jenis manusia dengan sifat dasarnya.

Bahasa yang mudah dipahami menjadi keunggulan buku ini, sehingga pembaca tidak kesulitan untuk mencapai maksud yang disampaikan oleh Mark. Pada buku ini, Mark menampilkan sebuah kisah yang berbeda dalam setiap bab nya. Menurutku ini adalah hal yang menarik. Karena pada setiap bab, Mark menampilkan kasus dan contoh-contoh baru. Ini yang membuat pembaca musiman seperti saya tidak bingung dengan alur cerita dan menjaga rasa penasaran untuk terus membaca setiap babnya.

Mark mengatakan bahwa, kita tidak seistimewa itu untuk memusingkan segala permasalahan yang ada di bumi atau bahkan merasa memiliki tanggung jawab untuk menjadi makhluk paling benar di Jupiter. Tentu tidak. Sangat terlihat jelas Mark ingin mengajak para pembaca bukunya untuk menanggapi permasalahan itu tidak perlu berlebihan. Ingat, ini hanya pendapatku setelah membacanya. Kalian akan memiliki pandangan lain jika membaca buku ini juga. Ada sebuah kalimat yang menarik bagiku, yaitu “meyakinkan diri sebagai makhluk yang special, merupakan sebuah strategi yang gagal”. kalian akan memahami maksud perkataan Mark jika membaca bab tiga. Mark Mansion juga mengatakan bahwa, “tidak semua orang bisa menjadi luar biasa, ada para pemenang dan pecundang di masyarakat, dan beberapa di antaranya tidak adil. Dan bukan kesalahan anda”. Pada sampul buku ini kalian bisa membaca sebuah kalimat, “Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik”. 

Kesimpulan yang saya dapat setelah selesai membacanya, saya menjadi paham akan maksud buku ini. Mark tidak akan membentuk para pembaca untuk menjalani kehidupan yang ‘Benar’, melainkan hidup yang ‘Baik’. Penyederhanaan terhadap pikiran, stigma, ekspektasi, pandangan pada masalah, penerimaan, mengerti Batasan-batasan dan segala hal yang akan kita lewati kedepannya, telah dirangkum oleh Mark. Mengingat buku ini menjadi buku terlaris versi New York Times maka ini membuktikan bahwa buku self improvement memang dibutuhkan untuk generasi saat ini


Minggu, 02 Juli 2023

 


MAX HAVELAAR

Karya: Multatuli

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengulas sebuah karya cantik dari Multatuli yang memiliki nama asli Eduard Douwes Dekker. Buku ini diterbitkan di Belanda kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah berawal dari seorang kenalan yang memberikannya pada saya. Dengan penampilan sampul buku yang sudah sedikit usang dan desain cover yang monolog juga kuno. Tetapi pada sampul buku tertulis, “kisah yang membunuh kolonialisme”-Pramoedya Ananta Toer. Inilah yang menarik bagi pembaca yang terobsesi oleh penulis tertentu. Kebetulan, saya lebih dulu mengenal pak Pram dibanding pak Multatuli ini.

Saya membaca buku ini sudah 4 tahun yang lalu. Sudah lama juga saya ingin mengulas tentang buku ini. Sedikit samar-samar untuk mengingat bagian-bagian dalam buku ini, tentu kalian harus membacanya sendiri. Buku ini kebanyakan memiliki penilaian yang susah dipahami, susah dicerna dan membosankan untuk dibaca. Tetapi itu adalah penilaian dari pembaca yang tidak memiliki selera pada karya fiksi yang berbau sejarah. Tapi jika kalian menyukai hal-hal seputar kolonialisme, sejarah, romansa kuno, juga obsess dengan masa hindia belanda. Buku ini perlu kalian baca dan kalian diskusikan dengan manusia yang sejenis dengan kalian dalam selera buku.

Tidak Panjang lebar, secara garis besar yang ingin aku sampaikan adalah pada buku ini penulis menyajikan entah ini hanya sebuah rangkaian peristiwa agar menarik dalam pembahasan bukunya, atau memang ia menyajikan sebuah fakta dan dibungkus dalam karya fiksi. Sesuai dengan perkataan pak Pram yaitu, kisah yang membunuh kolonialisme. Bahwa pada nyatanya pribumilah yang ikut andil pada kolonialisme dalam negeri sendiri. Kali ini aku tidak diperbolehkan menceritakan keseluruhannya karena kalian harus membacanya sendiri. Sebuah pengetahuan yang semu bagiku untuk mempercayai bahwa petinggi pribumi telah berlaku tidak terpelajar pada rakyatnya sendiri. Tapi, bukankah itu mungkin saja terjadi. Jika benar, berarti ini akan sangat berkaitan dengan situasi saat ini.

Keseruan dalam membaca buku ini adalah, tau bahwa faktanya kisah ini tidak hilang bersamaan dengan kolonialisme masa hindia belanda. Bahkan hingga saat ini akan menjadi alarm bagi siapapun yang telah menyelesaikan membaca buku ini, karena selama apapun kalian selesai membacanya akan tetap melekat kenyataan semu bahwa pribumi bisa menjadi penghancur untuk negeri sendiri.

Memang sedikit membingungkan pada bab pertama, mungkin karena ini termasuk pada karya yang diterjemahkan. Tetapi bersabarlah sedikit untuk menikmati keseruan kisah ceritanya. Ada sedikit kisah romansa kolonial, tapi mampu menguras banyak emosi saat membacanya. Meski hanya sekilas-sekilas tetapi mampu terkenang hingga selesai membacanya.

Yang menarik dari karya ini adalah. Sempat terjadi sebuah perdebatan di Kongres Internasional untuk Pengetahuan social di Amsterdam pada 1863. Penulis menantang saudara-saudara sebangsanya untuk membuktikan kesalahannya akan fakta dalam karyanya, tetapi tidak ada yang berani menerima tantangan itu. Perdebatan ini berkaitan dengan isi dalam karyanya. Karena dalam karya ini juga menyajikan kekuasaan pemerintah hindia belanda yang memperbudak tuan rumah dengan segala cara untuk mendapat keuntungan. Sangat disayangkan jika kalian tidak membaca buku yang menarik dan penuh dengan fakta-fakta yang tidak semua orang ketahui. Satu karya ini sangat cukup untuk menjadikan seseorang adil sejak dalam pikiran ‘dalam menilai sebuah persitiwa’. Aku mengikuti pertkataan pak Pram.

Jika kalian masih tidak yakin untuk membacanya, aku akan menampilkan sinopsi yang berada pada bagian sampul belakang buku ini,

“tragis, lucu, dan humanis. Max havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. Kemunculannya menggemparkan dan mengusik Nurani. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai Bahasa dan diadaptasi dalam film dan drama. Gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh pembaca sejak diterbitkan tahun 1860 hingga kini”

 


 


REVIEW BUKU

LAUT BERCERITA

Karya: Leila S. Chudori

 

Buku ini berjudul Laut Bercerita. Berkisah tentang sekelompok mahasiswa pada era tahun 1980an. Tokoh utamanya ialah Laut Biru. Tentu saja itu sebuah nama. Penulis memberikan nama yang menarik pada setiap tokoh dalam buku ini. Setiap nama yang diberikan dan watak pada tokoh di dalam buku, menurutku penulis telah berhasil mempadupadankan nama dan karakter yang sesuai. Pada bagian pertama buku ini berjudul Laut Biru, yaitu tokoh utama dalam buku ini. Setelah membaca buku yang berjudul Laut Bercerita, dengan tokoh utama yang Bernama Laut Biru, menurutku ini suatu hal yang saling melekat.

Sekelompok mahasiswa aktivis di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan segala latar cerita yang disajikan oleh penulis, membuatku yang juga mahasiswa jogja menjadi seakan-akan masuk dalam ruang waktu dan ikut dalam peristiwa itu. Penulis mampu menampilkan segala situasi serta lokasi yang menurutku ini telah memakan waktu yang lama untuk mengkajinya dan dipersembahkan dalam karya yang cantik ini. Bukan sebuah sikap yang berlebihan untuk mengakatakan bahwa ini adalah karya yang dirangkai dengan sangat rapi, hingga dapat membawa pembaca merasa ikut andil dalam setiap situasi di dalamnya.

Penokohan yang ditulis memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tetapi jika telah selesai membacanya hingga akhir, pembaca akan menemukan sebuah kekuatan yang diciptakan oleh karakter setiap tokoh. Sekali lagi, karya ini mampu membuatku merasakan keadaan yang penuh dengan cinta, kasih, persahabatan, kekeluargaan, semangat juang, prinsip yang keras bahkan kekesalan pada beberapa tokoh akan dirasakan pembaca. Bagaimana bisa, satu karya ini telah menyajikan begitu banyak perasaan manusia di dalamnya. Hingga butuh waktu 5 hari untuk sadar bahwa ini hanyalah buku fiksi, dan Laut Biru hanya tokoh yang dibuat penulis. Laut Bercerita benar-benar memiliki cerita yang dalam, pun dengan Laut Biru dengan segala ketenangan dalam jiwanya.

Pada bagian kedua yang berjudul, Asmara Jati. Asmara Jati merupakan seorang adik perempuan dari Laut Biru. Sekali lagi, aku sangat suka dengan penaman tokoh yang mudah dikenang bahkan jika aku sudah lama menyelesaikan bacaan ini.

Jadi, dalam satu buku ini memiliki dua bagian yang diceritakan dari dua sudut pandang lainnya. Pada bagian pertama adalah bagian dimana Laut Biru masih sempat untuk menceritakan kisahnya, kemudian pada bagian kedua, disambung oleh adiknya yaitu Asmara Jati. Awalnya aku merasa bingung saat membaca bagian kedua, karena aku tidak begitu memperhatikan peralihan alur cerita. Setelah itu aku memahami dan bagian kedua tidak begitu berbeda dengan bagian kesatu dalam segi segala hal. Hanya saja, mungkin ini disebabkan emosiku telah terkuras saat membaca bagian satu, Laut Biru. Sehingga pada saat menyelesaikan bagian kedua, aku membacanya dalam keadaan setengah pasrah dan masih pada perasaan tidak bisa menerima.

Untuk akhir cerita pada buku ini, menurutku ini benar-benar tidak adil. Tapi inilah kenyataan yang sesungguhnya. Justru penulis menampilkan sebuah keadaan yang memang sewajarnya terjadi. Dan mungkin ini juga yang menjadikan pembaca merasa bahwa ini terlalu nyata untuk sebuah karya fiksi. Karena dalam buku ini tidak menampilkan sebuah keajaiban-keajaiban yang tidak semua orang miliki. Karya ini telah menampilkan sebuah keindahan dalam merangkai kalimat, tapi penyiksaan untuk ikut andil dalam merasakan perasaan setiap tokoh.

Buku ini akan saya rekomendasikan pada kalian yang suka membaca karya fiksi dan berbau sejarah. Buku ini akan lebih mudah dipahami dan sangat menarik karena memiliki latar belakang di lingkungan yang mudah dijangkau. Semua tempat dalam buku ini dibuat seakan-akan memang terjadi pada tempat yang sesungguhnya. Dan aku membaca buku ini sambil mencari seluruh lokasinya. Apakah aku sudah terobsesi untuk membuktikan bahwa ini adalah kisah nyata? Tentu ini karena aku terbawa oleh perasaan yang penulis ciptakan dalam buku Laut Bercerita.


Blogroll

BTemplates.com

Popular Posts