LIFESTYLE ALA MAHATMA GANDHI
Siapa
diantara kalian para pembaca yang tidak mengenal Gandhi? Sudah tidak asing
bukan dengan seorang pria yang berasal dari india yang mendapat gelar
kehormatakan Mahatma Gandhi. Mahatma sendiri berartikan “jiwa yang agung” dari Bahasa
Sansekerta. Gelar kehormatan itu didapatnya saat ia bertugas di Afrika. Pada saat
itu ia bertugas sebagai pengacara kontrak di Afrika. Pada saat ia bertugas, ia
mengalami dan menerima ketidakadilan serta diskriminasi sebagai orang india. Singkat
kisahnya, gelar tersebut didapat karena perjuangan Mahatma Gandhi yang
menentang diskriminasi rasial yang ada di Afrika Selatan pada saat itu. Gandhi
memiliki nama asli Karamchad Gandhi. Jika kalian ingin mengetahui biografi lengkapnya,
kalian bisa mencarinya sendiri dan mengenalnya. Atau lebih baik ku sarankan
untuk membaca buku Autobiografi Mahatma Gandhi yang ia tulis atas paksaan
rekan-rekan terdekatnya yang sempat terhenti karena perkara ia menjalani masa
tahanan di Yeravda.
Tujuan
saya menulis tentang Mahatma Gandhi bukan semata-mata ingin menuliskan biografinya.
Tetapi saya memiliki sudut penilaian yang ingin saya sampaikan pada rekan-rekan
sekalian melalui tulisan ini. jika kalian telah mengenal atau sekedar tahu
perihal Mahatma Gandhi tentu kalian juga tidak asing dengan Gerakan-gerakan
yang ia serukan. Yaitu kebenaran, kemanusian, vegetarisme dan Gerakan perdamaian
lainnya. Tapi, siapa sangka ia hanyalah seorang anak laki-laki yang paling
pemalu diantara saudara-saudaranya. Anak laki-laki yang harus menerima takdir
pernikahan muda dengan alasan penghematan biaya maka ia dinikahkan bersamaan
dengan pernikahan kakak keduanya.
Titik
Balik Pada Proses
Mahatma
Gandhi dalam proses mencapai sebuah prinsip akan kebenaran, ia hanya seorang
anak laki-laki yang pernah melakukan kebohongan besar kepada ayah dan ibunya. Bahkan
ia mengakui dalam hidupnya ia melakukan sebuah penyesalan besar yang ia sendiri
tidak bisa mengampuni perbuatan tersebut. Hal tersebut ialah, pertama karena ia
telah melewatkan detik-detik kepergian ayahnya dan lebih menikmati malamnya
dikamar tidur bersama istrinya. Mahatma Gandhi menyebut kejadian tersebut
dengan istilah “nafsu badani”. Meski mungkin menurut kita hal tersebut dapat
diwajarkan bagi sebagain kalangan, tapi menurut saya kembali lagi kepada sikap
kita memandang kadar kepentingan sebuah peristiwa. Mungkin peristiwa tersebut sangatlah
penting dan akan menjadi sebuah penyesalan jika ia melewatkan begitu saja.
“dibutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk melepaskan diri dari
belenggu nafsu, dan saya harus melewati beragam cobaan berat sebelum akhirnya
berhasil mengatasinya”
Yang
kedua adalah, Mahatma Gandhi pernah melakukan sebuah kecurigaan terhadap
istrinya. ia mengatakan sebuah penyesalannya sebagai berikut. “dan saya tidak
pernah memaafkan diri atas kekejaman yang merupakan kesalahan karena telah
menyakiti istri saya dengan bertindak menurut informasi teman saya, karena itu
saya memandang Wanita adalah sebuah ingkarnasi dari toleransi.”
Dari
kisah tersebut saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki sisi kelam
yang mungkin ia sendiri tidak bisa memafkannya. Hal tersebut adalah kisah yang
wajar dialami oleh manusia yang sedang berproses.
Penerimaan
Diri
Semakin
saya mengenal dan membaca tulisan yang ia tulis atas dirinya sendiri, saya
menemukan sesuatu yang tidak pernah terlepas dari anggapan saya. Yaitu, “Mahatma
Gandhi adalah seorang anak yang biasa seperti kita”. Ia pernah mengalami sebuah
kekesalan kepada orang tuanya sebelum ia menyadari bahwa hal tersebut adalah
yang terbaik untuknya, ia pernah menggerutu demikian,
“Akhirnya saya belajar bahwa semua kesenangan dan kebahagiaan terus
dikorbankan demi layanan ketaatan pada orangtua saya”.
Saya
cukup kaget membaca kalimat tersebut. Bahkan seorang penggerak kebenaran saja pernah
kesal pada orangtua yang memegang seluruh kendali atas mimpi anaknya. Tentu menjadi
sebuah refleksi pada diri saya bahwa ini wajar terjadi dan mulai saat itu saya
tidak pernah lagi membesarkan perkara orang tua yang tidak sependapat dengan
saya. Karena saya berpikir bahwa, orangtua Mahatma Gandhi saja demikian.
Pertemanan
non toxic
ada
lagi yang menurut saya ini sangat relate dengan kehidupan kita saat ini. meski
ini dari seseorang yang jauh lebih dulu hidup dari zaman kita.
“sejak itu saya sadar jika saya telah salah mengira, seorang pelopor tak
mampu memiliki keakraban dengan ia yang ingin dipebarui”
“saya berpendapat bahwa segala pertemanan eksklusif harus dijauhi,
karena manusia jauh lebih siap menerima keburukan dibanding kebaikan,”
Kalimat
tersebut ia ujarkan karena sebuah pertemanan yang dianggapnya justru membawa
kesebuah kesalahan besar. Seperti membohongi keluarga, melakukan hal-hal yang
dilarang oleh agamanya dan segala keburukan yang ia bangun sembari membangun
pertemanan yang eksklusif tersebut.
Point
yang ingin saya sampaikan adalah, perlu adalanya sebuah batas dalam segala hal
yang berusuran dengan manusia. Karena memang, pada nyatanya sebaik apapun kita
akan tetap terpengaruhi oleh lingkungan yang kita sebut sebuah pertemanan. Tentu
ini adalah hal yang penting untuk kita perhatikan dikemudian hari. Karena memang
mawas diri bukanlah hal yang salah atau kaku. Justru dengan begitu kalian akan
selamat dari ketidak-enak-an, kesungkanan yang berujung ikut andil dalam proses
pembentukan habits selanjutnya. Lagi-lagi anggapan itu muncul di kepala saya,
bahwa Mahatma Gandhi pun pernah merasakan pertemanan yang membawanya dalam hal keburukan
hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi pertemanan yang eksklusif
tersebut. Baginya jika ingin berteman dengan Yang Maha Esa harus tetap
sendirian atau berteman dengan seluruh dunia. Ia tidak mengatakan untuk
menjauhi hubungan dengan manusia. jadi ini sebuah Tindakan yang perlu ditiru menurut
saya.
Moralitas
Kemudian,
saya juga tertarik pada sebuah perkataan tetang proses menuju kebenaran itu
sendiri. Sebelum ia mencapai tahap kebenaran, ia adalah seseorang yang pernah
melakukan kebohongan besar terhapa ayah juga ibunya, juga ia melakukan sebuah
larangan dalam agamanya. Ia mengatakan, “bahwa tak akan ada pembersihan tanpa
pengakuan”. Bagi saya ini sebuah kalimat yang ajaib. Yang cukup membuat saya
marasa bahwa ini adalah inti dari pembersihan diri menuju sikap adil sejak
dalam pikiran. Dari peristiwa pengakuan tersebut akhirnya memabawanya ketahap ‘kebenaran’
itu sendiri. Ia juga memiliki prinsip bahwa moralitas adalah dasar dari segala
hal, dan bahwa kebenaran adalah substansi dari segala moralitas. Artinya jika tujuannya
adalah mencapai sebuah kebenaran, maka moralitas adalah jalannya. Sehingga saya
menyimpulkan bahwa moralitas adalah awal dan sumber dari segala kebaikan. Termasuk
dengan kebenaran. Kebenaran adalah buah dari moralitas yang baik.
Memberi makan pikiran
Pada
saat Mahatma Gandi berusia 18 tahun, ia memutuskan untuk melanjutkan belajar ke
inggris dan mengambil jurusan hukum. ia berangkat ke inggris dengan tujuan
untuk pulang sudah menjadi seorang pengacara. Keberangkatannya ke inggris setelah
kematian ayahnya. Perjalannya dalam mencari ilmu, dibarengi dengan ketekatan ia
untuk menjadi vegetarian. Yang menjadi factor utama ia memutuskan menjadi
vegetarian karena ia telah berjanji pada agama dan ibunya untuk tidak memakan
makhluk hidup. Disamping itu, keterbatasan uang saku yang ia miliki sebagai
mahasiswa perantauan. Ini juga membuat saya sadar, bahwa proses menghemat juga
terjadi pada Mahatma Gandhi. Sekali lagi, ini menjadi reminder bagi saya
pribadi untuk lebih lebih bersyukur kedepannya. Sebenarnya menghemat bukanlah alasan utamanya,
tetapi seiring waktu dan penyesuaian keadaan maka hal tersebut menjadi alasan
yang paling masuk akal. Jadi, menurut saya alasan dapat dirubah, asal tujuan
tetap sama maka kita bebas memakai cara apa unutk mempertahankan tujuan
utamanya.
Perlu
diingat, jangan sampai kita mengira bahwa gaya hidup Mahatma Gandhi dianggap menyedihkan.
Sebaliknya, perubahan itu mengharmonisasikan kehidupan batin, fisiknya, dan
juga sesuai dengan batas kemampuan keluarganya. Justru ini adalah point yang
perlu kita tiru juga untuk menjalani kehidupan. Bahwa keinginan dan kebutuhan
saja tidak cukup dijadikan sebagai pondasi dalam mengambil sikap. Tentu pertimbangan
kemampuan itu cukup berpengaruh dalam pengambilang sikap. Lagipula yang perlu kita
sadari adalah makan bukan untuk bersenang-senang tapi untuk hidup. Karena sesungguhnya
pusat rasa bukan berada pada lidah, tapi pikiran.
Insecure
Itu Wajar
Selain
kehidupan yang cukup sulit di inggris sebagai mahasiwa perantauan, ada fakta
yang menarik untuk kita ketahui. Bahkan seorang Mahatma Gandhi merasakan sebuah
sikap keminderan, insecure/ ketidakpercayaan diri. Ia pernah mengaku demikian,
“namun
sekalipun Pendidikan saya selesai tak begituu dengan rasa tidak berdaya dan
takut saya. Saya merasa diri saya tidak memadai untuk memperaktikkan hukum.”
“…tapi
saya sangat ragu apakah saya mampu bahkan untuk mencari nafkah dengan profesi
ini.”
Sungguh,
pengakuan tersebut membuat saya sedikit lega. Paling tidak perasaan
ketidakpercayaan diri itu wajar dan benar adanya. Artinya itu biasa terjadi
pada manusia. Maka kita tidak perlu untuk larut-larut dalam ketidakpercyaan
diri. Menurut saya, ketulusan dan semangat yang biasa-biasa saja sudah cukup
untuk mencari nafkah.
Minimalism
Terakhir
dalam bab tulisan ini, saya ingin menyampaikan kekaguman saya terhadap pola
hidup minimalism. Mahatma Gandhi sempat berada pada sikap mendandani dirinya ala
pria inggris yang modis. Tetapi pada suatu hari ia bertemu dengan seorang kawan
yang sama-sama dari india, ia disadarkan oleh temannya tersebut yang
mengakatan,
“saya bukan seorang yang modis seperti anda. Sejumlah kecil makanan dan
sejumlah kecil pakaian sudah cukup bagi saya.”
Ini
adalah konsep minimalism yang sangat penting untuk kita pahami saat ini. tentu
banyak keributan dalam pikiran kalian jika kalian juga menginginkan begitu
banyak hal dalam hidup kalian. Sederhanaya, jika kalian menjadikan segala hal
sebagai prioritas kebutuhan, maka itu sama halnya menyulitkan diri sendiri atas
pikiran kalian.
Saya
memiliki kalimat yang manis untuk dijadikan sebagai penutup tulisan ini. yaitu:
cita-cita
Gandhi tentang cara hidup adalah sebuah cita-cita yang sempurna untuk
manusia-manusia yang tidak sempurna.





