Sabtu, 29 Juli 2023

 



LIFESTYLE ALA MAHATMA GANDHI

Siapa diantara kalian para pembaca yang tidak mengenal Gandhi? Sudah tidak asing bukan dengan seorang pria yang berasal dari india yang mendapat gelar kehormatakan Mahatma Gandhi. Mahatma sendiri berartikan “jiwa yang agung” dari Bahasa Sansekerta. Gelar kehormatan itu didapatnya saat ia bertugas di Afrika. Pada saat itu ia bertugas sebagai pengacara kontrak di Afrika. Pada saat ia bertugas, ia mengalami dan menerima ketidakadilan serta diskriminasi sebagai orang india. Singkat kisahnya, gelar tersebut didapat karena perjuangan Mahatma Gandhi yang menentang diskriminasi rasial yang ada di Afrika Selatan pada saat itu. Gandhi memiliki nama asli Karamchad Gandhi. Jika kalian ingin mengetahui biografi lengkapnya, kalian bisa mencarinya sendiri dan mengenalnya. Atau lebih baik ku sarankan untuk membaca buku Autobiografi Mahatma Gandhi yang ia tulis atas paksaan rekan-rekan terdekatnya yang sempat terhenti karena perkara ia menjalani masa tahanan di Yeravda.

Tujuan saya menulis tentang Mahatma Gandhi bukan semata-mata ingin menuliskan biografinya. Tetapi saya memiliki sudut penilaian yang ingin saya sampaikan pada rekan-rekan sekalian melalui tulisan ini. jika kalian telah mengenal atau sekedar tahu perihal Mahatma Gandhi tentu kalian juga tidak asing dengan Gerakan-gerakan yang ia serukan. Yaitu kebenaran, kemanusian, vegetarisme dan Gerakan perdamaian lainnya. Tapi, siapa sangka ia hanyalah seorang anak laki-laki yang paling pemalu diantara saudara-saudaranya. Anak laki-laki yang harus menerima takdir pernikahan muda dengan alasan penghematan biaya maka ia dinikahkan bersamaan dengan pernikahan kakak keduanya.

 

Titik Balik Pada Proses

Mahatma Gandhi dalam proses mencapai sebuah prinsip akan kebenaran, ia hanya seorang anak laki-laki yang pernah melakukan kebohongan besar kepada ayah dan ibunya. Bahkan ia mengakui dalam hidupnya ia melakukan sebuah penyesalan besar yang ia sendiri tidak bisa mengampuni perbuatan tersebut. Hal tersebut ialah, pertama karena ia telah melewatkan detik-detik kepergian ayahnya dan lebih menikmati malamnya dikamar tidur bersama istrinya. Mahatma Gandhi menyebut kejadian tersebut dengan istilah “nafsu badani”. Meski mungkin menurut kita hal tersebut dapat diwajarkan bagi sebagain kalangan, tapi menurut saya kembali lagi kepada sikap kita memandang kadar kepentingan sebuah peristiwa. Mungkin peristiwa tersebut sangatlah penting dan akan menjadi sebuah penyesalan jika ia melewatkan begitu saja.

“dibutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu, dan saya harus melewati beragam cobaan berat sebelum akhirnya berhasil mengatasinya”

Yang kedua adalah, Mahatma Gandhi pernah melakukan sebuah kecurigaan terhadap istrinya. ia mengatakan sebuah penyesalannya sebagai berikut. “dan saya tidak pernah memaafkan diri atas kekejaman yang merupakan kesalahan karena telah menyakiti istri saya dengan bertindak menurut informasi teman saya, karena itu saya memandang Wanita adalah sebuah ingkarnasi dari toleransi.”

Dari kisah tersebut saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki sisi kelam yang mungkin ia sendiri tidak bisa memafkannya. Hal tersebut adalah kisah yang wajar dialami oleh manusia yang sedang berproses.

 

Penerimaan Diri

Semakin saya mengenal dan membaca tulisan yang ia tulis atas dirinya sendiri, saya menemukan sesuatu yang tidak pernah terlepas dari anggapan saya. Yaitu, “Mahatma Gandhi adalah seorang anak yang biasa seperti kita”. Ia pernah mengalami sebuah kekesalan kepada orang tuanya sebelum ia menyadari bahwa hal tersebut adalah yang terbaik untuknya, ia pernah menggerutu demikian,

“Akhirnya saya belajar bahwa semua kesenangan dan kebahagiaan terus dikorbankan demi layanan ketaatan pada orangtua saya”.

Saya cukup kaget membaca kalimat tersebut. Bahkan seorang penggerak kebenaran saja pernah kesal pada orangtua yang memegang seluruh kendali atas mimpi anaknya. Tentu menjadi sebuah refleksi pada diri saya bahwa ini wajar terjadi dan mulai saat itu saya tidak pernah lagi membesarkan perkara orang tua yang tidak sependapat dengan saya. Karena saya berpikir bahwa, orangtua Mahatma Gandhi saja demikian.

 

Pertemanan non toxic

ada lagi yang menurut saya ini sangat relate dengan kehidupan kita saat ini. meski ini dari seseorang yang jauh lebih dulu hidup dari zaman kita.

“sejak itu saya sadar jika saya telah salah mengira, seorang pelopor tak mampu memiliki keakraban dengan ia yang ingin dipebarui”

“saya berpendapat bahwa segala pertemanan eksklusif harus dijauhi, karena manusia jauh lebih siap menerima keburukan dibanding kebaikan,”

Kalimat tersebut ia ujarkan karena sebuah pertemanan yang dianggapnya justru membawa kesebuah kesalahan besar. Seperti membohongi keluarga, melakukan hal-hal yang dilarang oleh agamanya dan segala keburukan yang ia bangun sembari membangun pertemanan yang eksklusif tersebut.

Point yang ingin saya sampaikan adalah, perlu adalanya sebuah batas dalam segala hal yang berusuran dengan manusia. Karena memang, pada nyatanya sebaik apapun kita akan tetap terpengaruhi oleh lingkungan yang kita sebut sebuah pertemanan. Tentu ini adalah hal yang penting untuk kita perhatikan dikemudian hari. Karena memang mawas diri bukanlah hal yang salah atau kaku. Justru dengan begitu kalian akan selamat dari ketidak-enak-an, kesungkanan yang berujung ikut andil dalam proses pembentukan habits selanjutnya. Lagi-lagi anggapan itu muncul di kepala saya, bahwa Mahatma Gandhi pun pernah merasakan pertemanan yang membawanya dalam hal keburukan hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menjauhi pertemanan yang eksklusif tersebut. Baginya jika ingin berteman dengan Yang Maha Esa harus tetap sendirian atau berteman dengan seluruh dunia. Ia tidak mengatakan untuk menjauhi hubungan dengan manusia. jadi ini sebuah Tindakan yang perlu ditiru menurut saya.

 

Moralitas

Kemudian, saya juga tertarik pada sebuah perkataan tetang proses menuju kebenaran itu sendiri. Sebelum ia mencapai tahap kebenaran, ia adalah seseorang yang pernah melakukan kebohongan besar terhapa ayah juga ibunya, juga ia melakukan sebuah larangan dalam agamanya. Ia mengatakan, “bahwa tak akan ada pembersihan tanpa pengakuan”. Bagi saya ini sebuah kalimat yang ajaib. Yang cukup membuat saya marasa bahwa ini adalah inti dari pembersihan diri menuju sikap adil sejak dalam pikiran. Dari peristiwa pengakuan tersebut akhirnya memabawanya ketahap ‘kebenaran’ itu sendiri. Ia juga memiliki prinsip bahwa moralitas adalah dasar dari segala hal, dan bahwa kebenaran adalah substansi dari segala moralitas. Artinya jika tujuannya adalah mencapai sebuah kebenaran, maka moralitas adalah jalannya. Sehingga saya menyimpulkan bahwa moralitas adalah awal dan sumber dari segala kebaikan. Termasuk dengan kebenaran. Kebenaran adalah buah dari moralitas yang baik.

 

Memberi makan pikiran

Pada saat Mahatma Gandi berusia 18 tahun, ia memutuskan untuk melanjutkan belajar ke inggris dan mengambil jurusan hukum. ia berangkat ke inggris dengan tujuan untuk pulang sudah menjadi seorang pengacara. Keberangkatannya ke inggris setelah kematian ayahnya. Perjalannya dalam mencari ilmu, dibarengi dengan ketekatan ia untuk menjadi vegetarian. Yang menjadi factor utama ia memutuskan menjadi vegetarian karena ia telah berjanji pada agama dan ibunya untuk tidak memakan makhluk hidup. Disamping itu, keterbatasan uang saku yang ia miliki sebagai mahasiswa perantauan. Ini juga membuat saya sadar, bahwa proses menghemat juga terjadi pada Mahatma Gandhi. Sekali lagi, ini menjadi reminder bagi saya pribadi untuk lebih lebih bersyukur kedepannya.  Sebenarnya menghemat bukanlah alasan utamanya, tetapi seiring waktu dan penyesuaian keadaan maka hal tersebut menjadi alasan yang paling masuk akal. Jadi, menurut saya alasan dapat dirubah, asal tujuan tetap sama maka kita bebas memakai cara apa unutk mempertahankan tujuan utamanya.

Perlu diingat, jangan sampai kita mengira bahwa gaya hidup Mahatma Gandhi dianggap menyedihkan. Sebaliknya, perubahan itu mengharmonisasikan kehidupan batin, fisiknya, dan juga sesuai dengan batas kemampuan keluarganya. Justru ini adalah point yang perlu kita tiru juga untuk menjalani kehidupan. Bahwa keinginan dan kebutuhan saja tidak cukup dijadikan sebagai pondasi dalam mengambil sikap. Tentu pertimbangan kemampuan itu cukup berpengaruh dalam pengambilang sikap. Lagipula yang perlu kita sadari adalah makan bukan untuk bersenang-senang tapi untuk hidup. Karena sesungguhnya pusat rasa bukan berada pada lidah, tapi pikiran.

 

Insecure Itu Wajar

Selain kehidupan yang cukup sulit di inggris sebagai mahasiwa perantauan, ada fakta yang menarik untuk kita ketahui. Bahkan seorang Mahatma Gandhi merasakan sebuah sikap keminderan, insecure/ ketidakpercayaan diri. Ia pernah mengaku demikian,

“namun sekalipun Pendidikan saya selesai tak begituu dengan rasa tidak berdaya dan takut saya. Saya merasa diri saya tidak memadai untuk memperaktikkan hukum.”

“…tapi saya sangat ragu apakah saya mampu bahkan untuk mencari nafkah dengan profesi ini.”

Sungguh, pengakuan tersebut membuat saya sedikit lega. Paling tidak perasaan ketidakpercayaan diri itu wajar dan benar adanya. Artinya itu biasa terjadi pada manusia. Maka kita tidak perlu untuk larut-larut dalam ketidakpercyaan diri. Menurut saya, ketulusan dan semangat yang biasa-biasa saja sudah cukup untuk mencari nafkah.

 

Minimalism

Terakhir dalam bab tulisan ini, saya ingin menyampaikan kekaguman saya terhadap pola hidup minimalism. Mahatma Gandhi sempat berada pada sikap mendandani dirinya ala pria inggris yang modis. Tetapi pada suatu hari ia bertemu dengan seorang kawan yang sama-sama dari india, ia disadarkan oleh temannya tersebut yang mengakatan,

“saya bukan seorang yang modis seperti anda. Sejumlah kecil makanan dan sejumlah kecil pakaian sudah cukup bagi saya.”

Ini adalah konsep minimalism yang sangat penting untuk kita pahami saat ini. tentu banyak keributan dalam pikiran kalian jika kalian juga menginginkan begitu banyak hal dalam hidup kalian. Sederhanaya, jika kalian menjadikan segala hal sebagai prioritas kebutuhan, maka itu sama halnya menyulitkan diri sendiri atas pikiran kalian.

 

Saya memiliki kalimat yang manis untuk dijadikan sebagai penutup tulisan ini. yaitu:

cita-cita Gandhi tentang cara hidup adalah sebuah cita-cita yang sempurna untuk manusia-manusia yang tidak sempurna.

 


0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

BTemplates.com

Popular Posts