MAX HAVELAAR
Karya: Multatuli
Pada kesempatan kali ini saya ingin
mengulas sebuah karya cantik dari Multatuli yang memiliki nama asli Eduard
Douwes Dekker. Buku ini diterbitkan di Belanda kemudian diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia. Yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah berawal dari
seorang kenalan yang memberikannya pada saya. Dengan penampilan sampul buku yang
sudah sedikit usang dan desain cover yang monolog juga kuno. Tetapi pada sampul
buku tertulis, “kisah yang membunuh kolonialisme”-Pramoedya Ananta Toer. Inilah yang menarik bagi pembaca yang terobsesi oleh penulis tertentu. Kebetulan,
saya lebih dulu mengenal pak Pram dibanding pak Multatuli ini.
Saya membaca buku ini sudah 4 tahun yang lalu. Sudah lama juga saya ingin mengulas tentang buku ini. Sedikit samar-samar untuk
mengingat bagian-bagian dalam buku ini, tentu kalian harus membacanya sendiri. Buku
ini kebanyakan memiliki penilaian yang susah dipahami, susah dicerna dan membosankan
untuk dibaca. Tetapi itu adalah penilaian dari pembaca yang tidak memiliki selera pada karya
fiksi yang berbau sejarah. Tapi jika kalian menyukai hal-hal seputar
kolonialisme, sejarah, romansa kuno, juga obsess dengan masa hindia belanda. Buku
ini perlu kalian baca dan kalian diskusikan dengan manusia yang sejenis
dengan kalian dalam selera buku.
Tidak Panjang lebar, secara garis besar yang
ingin aku sampaikan adalah pada buku ini penulis menyajikan entah ini hanya sebuah
rangkaian peristiwa agar menarik dalam pembahasan bukunya, atau memang ia
menyajikan sebuah fakta dan dibungkus dalam karya fiksi. Sesuai dengan
perkataan pak Pram yaitu, kisah yang membunuh kolonialisme. Bahwa pada nyatanya
pribumilah yang ikut andil pada kolonialisme dalam negeri sendiri. Kali ini aku
tidak diperbolehkan menceritakan keseluruhannya karena kalian harus membacanya
sendiri. Sebuah pengetahuan yang semu bagiku untuk mempercayai bahwa petinggi pribumi
telah berlaku tidak terpelajar pada rakyatnya sendiri. Tapi, bukankah itu
mungkin saja terjadi. Jika benar, berarti ini akan sangat berkaitan dengan situasi
saat ini.
Keseruan dalam membaca buku ini adalah, tau
bahwa faktanya kisah ini tidak hilang bersamaan dengan kolonialisme masa
hindia belanda. Bahkan hingga saat ini akan menjadi alarm bagi siapapun yang
telah menyelesaikan membaca buku ini, karena selama apapun kalian selesai
membacanya akan tetap melekat kenyataan semu bahwa pribumi bisa menjadi
penghancur untuk negeri sendiri.
Memang sedikit membingungkan pada bab pertama,
mungkin karena ini termasuk pada karya yang diterjemahkan. Tetapi bersabarlah
sedikit untuk menikmati keseruan kisah ceritanya. Ada sedikit kisah romansa kolonial,
tapi mampu menguras banyak emosi saat membacanya. Meski hanya sekilas-sekilas
tetapi mampu terkenang hingga selesai membacanya.
Yang menarik dari karya ini adalah. Sempat
terjadi sebuah perdebatan di Kongres Internasional untuk Pengetahuan social di
Amsterdam pada 1863. Penulis menantang saudara-saudara sebangsanya untuk
membuktikan kesalahannya akan fakta dalam karyanya, tetapi tidak ada yang
berani menerima tantangan itu. Perdebatan ini berkaitan dengan isi dalam karyanya. Karena
dalam karya ini juga menyajikan kekuasaan pemerintah hindia belanda yang
memperbudak tuan rumah dengan segala cara untuk mendapat keuntungan. Sangat disayangkan
jika kalian tidak membaca buku yang menarik dan penuh dengan fakta-fakta yang
tidak semua orang ketahui. Satu karya ini sangat cukup untuk menjadikan
seseorang adil sejak dalam pikiran ‘dalam menilai sebuah persitiwa’. Aku
mengikuti pertkataan pak Pram.
Jika kalian masih tidak yakin untuk membacanya,
aku akan menampilkan sinopsi yang berada pada bagian sampul belakang buku ini,
“tragis,
lucu, dan humanis. Max havelaar, salah satu karya klasik yang mendunia. Kemunculannya
menggemparkan dan mengusik Nurani. Buku ini diterjemahkan dalam berbagai Bahasa
dan diadaptasi dalam film dan drama. Gaung kisah Max Havelaar masih menyentuh
pembaca sejak diterbitkan tahun 1860 hingga kini”

0 komentar:
Posting Komentar