
"Gambar yang ku buat untuk diriku sendiri"
Ada salah satu akun anonim yang kutemui. Ku sebut anonim karena aku tidak tau dibalik akun itu siapa, dan secara tidak sadar aku membaca seluruh tulisannya. Ia mengingatkanku pada diriku dua tahun silam. Tentang kekhawatiran, kegelisahan, kesepian yang tidak ada ujungnya, ketakutan oleh hal-hal yang tidak penting dan perasaan-perasaan yang aku rasa hanya aku yang menderita seperti ini dimuka bumi.
Aku mengkhawatirkan sesuatu yang bukan jangkauanku. Mengkhawatirkan masa depan, atau sekedar "besok aku akan melakukan apa ya?". Pertanyaan yang ku berikan pada diriku sendiri ini dapat kupikirkan hingga tengah malam dan kesulitan untuk tidur. Pada akhirnya pikiranku mulai liar dan tidak berjalan semestinya. Aku mulai memikirkan, besok aku akan menjadi sukses tidak ya? Apakah esok aku akan ditanyai oleh dosen ketika dikelas? Apakah besok aku akan mendapat pujian dari orang tuaku karena aku memenangkan lomba?. Dan pertanyaan-pertanyaan ringan ini berubah menjadi, "memangnya kamu bisa sukses??", "memangnya dosen mengenalmu?", "memangnya sudah pasti kamu yang menang?".
Kurang lebih selama dua tahun aku mengalami hal ini. Tidak tau bermula sejak kapan. Aku dengan ketakutanku, kekhawatiranku, dengan segala perasaanku sendiri yang perlahan membuatku berada pada lubang gelap yang seakan-akan dijauhi oleh manusia. Aku tidak tahu betul ini perasaan seperti apa. Yang jelas pada saat itu aku merasa Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk diriku sendiri.
Lambat laun aku semakin dalam pada lubang gelap ini. Ya, rasanya aku sedang berada dalam lubang yang pengap, panas dan tiba-tiba dingin, tidak mendengar suara siapapun, dan aku semakin mengutuk diriku sendiri. Entah aku yang mulai nyaman dengan kegelapan dan kesendirian ini, lambat laun aku menjauhi semua orang di sekelilingku. Sebelumnya aku tidak seperti ini saat masih sekolah. Ini bermula pada aku lulus dari SMA. Sebelumnya aku memiliki banyak teman dan bahkan ku rasa Saaangat banyak dan aku bukan seseorang yang suka membuat masalah, jadi ku pastikan temanku tidak ada yang dendam denganku.
Aku mulai mengisolasi diriku sendiri pada dunia yang kuciptakan. Mengkhawatirkan diriku sendiri, marah dengan pikiranku sendiri, hingga aku kesal melihat diriku sendiri. Rasanya tidak ada yang benar ketika aku melihat diriku sendiri. Aku sempat merasakan hening ketika dalam kerumunan. Ketika di kampus dan berkumpul dengan 'genk' (Ya, aku masih memiliki circle pertemanan di kampus) mereka tertawa dan aku tidak tau apa yang mereka tertawakan. Hingga pada perjalanan pulang aku merasa diriku semakin aneh dan sampainya di kost aku mulai menyalahkan diriku sendiri.
Hampir 2 tahun tinggal di jogja yang katanya kota 24 jam untuk mahasiswa, dan selama 2 tahun pula aku tidak pernah ikut berkumpul teman-temanku untuk sekedar ngobrol di warung kopi. Karena setiap aku merasakan keheningan dalam keramaian, setelah itu aku akan menyalahkan diriku sendiri, dan aku semakin membenci diriku sendiri.
Aku mulai terbiasa sendiri, melakukan apapun sendiri, dan kemanapun sebisa mungkin aku sendiri. Hingga pada saat aku mengikuti salah satu event kesenian (Aku sangat suka kesenian), dan saat itulah pertamakali aku merasakan telingaku berdengung dan aku tidak nyaman dengan tepuk tangan mereka. Awalnya aku kira itu karena telingaku sakit, ternyata bukan. Setelah aku keluar gedung, aku merasa sedikit tenang dan aku baik-baik saja. Hampir gila rasanya.
Aku juga pernah melakukan kesalahan kecil dan sangat kecil. Ya, saat buru-buru aku berjalan ke kampus, tidak sengaja aku menabrak ibu-ibu yang sedang mengantri di ATM. Ibu-ibu itu tidak mengatakan apapun hanya melemparkan pandangan yang tidak mengenakkan padaku. Kalian tau apa yang ku lakukan? Aku izin tidak masuk kelas, aku kembali ke kost dan aku menangis sejadi-jadinya hanya karena kejadian itu. Aku ingat betul mengapa aku menangis, ya lagi-lagi aku menyalahkan diriku sendiri. "Coba aja kamu tadi ga kelamaan mandinya". "Coba aja kamu tadi udah persiapan" dan banyak perkataan-perkataan yang menyalahkan diriku sendiri. Gila rasanya. Dan itu hanya salah satu contoh kejadian yang dapat menjadikan ku semakin merasa buruk.
Sampai pada suatu hari aku mulai menceritakan ini pada satu orang, dan dia menyarankan ku untuk mengaji, mendengarkan motivasi-motivasi, dan yang lainnya. Ku lakukan semuanya, ku peraktikkan semuanya sampai aku hafal perkataan-perkataan motivator. Tapi itu semua tidak membuatku merasa baikan. Justru ketika motivator mengatakan, "kamu pasti bisa" diriku mengatakan, "sialan, kenapa aku tidak bisa".
Terlalu panjang jika ku tuliskan. Saat ini aku belum sepenuhnya merasa sembuh. Hanya saja aku merasa baikan. Bukan karena mendengarkan motivator setiap pagi, dan membaca kalimat-kalimat motivasi di instagram. Aku mulai merasa sedikit baikan ketika aku membangun kenyamanan dalam lubang gelap yang ku buat sendiri. Aku tidak akan memaksa diriku untuk keluar. Aku hanya perlu menyediakan lampu jika itu gelap. Aku hanya memperindah ruangan jika ku rasa terlalu senyap. Aku hanya perlu berbicara ketika ku rasa ruang itu hening. Aku hanya perlu diam ketika aku merasa bising. Bukan orang lain yang menghias, bukan orang lain yang berbicara, bukan orang lain yang berperan pada diriku. Karena pada dasarnya aku sendiri yang membangun ruang untuk diriku sendiri.
Setiap manusia memiliki fase terendahnya. Aku tidak akan memaksa diriku atau orang lain untuk menolak fase itu, karena itu hanya akan berujung memandang tidak pantas diri sendiri. Akan ku ajak menikmati keterbelenguan ini, kedepresian ini, dan kegilaan ini, hingga kita mampu merubah ruang kosong menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk diri kita.
Aku sedang tidak memotivasi, aku ingin mengatakan perasaan gila seperti ini dialami oleh banyak manusia. Aku yakin, bahkan yang membaca ini hingga akhir juga sebenernya sedang mengalami. Ini masih ada kelanjutannya, tentang perasaan manusiawi yang lainnya.
Aku juga suka bersembunyi di akun anonim
BalasHapusMaaf, anonim bikin lebih nyaman buat jadi diri sendiri.
Ku tunggu tulisan berikutnya.
Hai. Terimakasih sudah membacanya 💐
Hapus