![]() |
| Karya penulis |
Musim Corona yang mendramatisir umat yang katanya manusia. Tercatat sekitar 69% masyarakat mengalami masalah psikologis dengan 67% mengalami gejala depresi dari 2364 responden berdasarkan data swa periksa yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia. Sayangnya hal ini masih dianggap sepele oleh masyarakat Indonesia. Tidak jauh-jauh dari lingkungan kita sendiri misalnya. Jika ada seseorang yang mengalami depresi biasanya dibilang,
“Kurang deket aja itu sama tuhan,”
“Halah, kamunya aja yang terlalu dipikir,”
“Dibuat santai aja kali ah,”
Bahkan, parahnya ada juga yang sampai disuruh ruqyah, disuruh ke dukun dan lain sebagainya. Masyarakat kita justru membiasakan diri terbelenggu dalam lingkaran Toxic Positivity. Yaitu, hal-hal yang terlihat baik tetapi berdampak buruk untuk mental kita. Begitu juga aku yang masih kerap menjadi pelaku Toxic Psitivity. Misalnya nih, ada temen yang bercerita tentang masalahnya. mungkin niat kita baik ya, dan bisa saja tidak memiliki niat khusus ketika mengatakan “Coba kamu lebih sabar lagi”, “Yaudahlah, biarin aja nanti kamu juga bakal lupa sendiri”, “Coba kamu lebih bersyukur lagi deh” dan kalimat-kalimat yang kerap kita katakana kepada seseorang yang sedang bercerita. Atau bahkan parahnya lagi malah nyuruh buat mengubur dalam-dalam perasaan atau emosi itu.
Perasaan marah, kesal dan perasaan yang dianggap negative lainnya tidak selamanya buruk dan harus dihindari. Hanya saja kita hidup di masyarakat yang mana menganggap perasaan negative itu buruk dan perasaan positif itu baik.
Padahal perasan negative yang kita rasain selama ini ternyata tidak semuanya buruk. Dengan kita jujur kepada diri kita sendiri dan apa yang kita rasain, entah itu marah, entah itu sedih, kesal dan sebagainya justru dengan menerima perasaan itu membuat kita mamhami betul apa yang diri kita butuhkan. dan mengetahui cara merespon perasaan tersebut.
Begitu juga dengan merespon permasalahn orang lain. Kita bisa menjadi pendengar yang baik dan tidak berpendapat tanpa dimintai. Karena tidak jarang seseorang yang sedang bercerita dia hanya ingin sekedar didengar saja.
Aku tau ini tidaklah mudah. Tetapi memendam kemarahan dan kesedihan dengan berpura-pura untuk baik-baik saja juga tidak menyelesaikan permasalahnmu. Mungkin sementara akan terlihat baik-baik saja. Tapi percayalah, sampah yang ditumpuk terus-menerus akan mengeluarkan bau yang lebih busuk ketika meledak. Karena tuhan sendiri menciptakan manusia dengan berbagai perasaan yang diberikan. Maka, bukan hanya perasaan bahagia saja yang harus dirayakan. Sesekali kita coba rayakan kesedihan, nikmati ketidakjelasan perjalanan kita, nikmati perasaan kehilangan dan sebagainya.
Aku bukan berkampanye tentang kesehatan mental. Ini hanya tulisan yang ku ketik karena aku merasakan sendiri bagaimana rasanya berusaha baik-baik saja dan menympan kesedihan sendiri dalam jangka waktu yang lama. Ini tidak akan menyembuhkanmu dan membuatmu merasa baik. Tidak lain kamu hanya menunda untuk bersedih.

0 komentar:
Posting Komentar