Rabu, 29 September 2021

Pic from google

 "Hidup bisa memberi segala, kepada semua yang mau mencari tau dan pandai menerima."

-Nyai Ontosoroh

Sebuah kutipan yang ku dapatkan dari film Bumi Manusia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Selain itu film ini diangkat dari karya Pramoedya Ananta Toer. Buku pertama dari Tetralogi Buru yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980 dan karya ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer pada saat masih berada di Pulau Buru.

Karya yang fenomenal ini mengisahkan tentang pemuda bumi putera yang memiliki nama julukan Minke sekaligus siswa HBS (sekolah untuk belanda, dan ningrat atau pejabat pada masa itu). Suatu hari Minke bertemu dengan wanita Indo (keturunan pribumi dan belanda) namanya Annelies Mellema. Mereka saling jatuh cinta dan berupaya untuk bersatu.

Justru bukan romansa kolonial yang membuatku tertarik untuk membahas karya ini, melainkan sosok Nyai Ontosoroh. Seorang nyai (selir) yang dimana dia adalah ibu dari Annelies Mellema. Pemilik nama asli Sanikem. PramoedyaAnanta Toer berhasil menciptakan sosok wanita tidak biasa. Sosok wanita yang tidak mementingkan tingkatan sosial, jabatan, dan kedudukan. Dalam diri Nyai Ontosoroh seperti sudah tertanam  "semua manusia setara dan sama". Mengingat kondisi pada masa itu seorang nyai atau gundik dipandang sangat rendah oleh masyarakat bahkan tidak jarang diperlakukan bukan seperti manusia.

Menurut Ontosoroh, satu-satunya hal yang dapat dilakukan untuk melawan penghinaan, kebodohan, dan kemiskinan adalah dengan belajar. Sehingga tidak ada perasaan untuk berkecil hati di hadapan para Kompeni atau biasa disebut 'Inlander' pada masanya. Hal ini dibuktikan oleh Nyai Ontosoroh. Beliau belajar menulis, membaca, berbicara menggunakan bahasa belanda, belajar manajemen keuangan, hingga mampu mengatur seluruh keuangan dan menjadi pemilik Perusahaan Pertanian Buitenzorg.S.
Pribadi yang tegas, lugas, anggun, dan berwibawa adalah komponen utama dalam pembentukan Nyai Ontosoroh. Lagi-lagi Pram tidak pernah gagal menciptakan tokoh dalam karyanya. Ini hanya sepenggal tentang Nyai Ontosoroh.

Tidak perlu termotivasi oleh ini, aku hanya bercerita. Apalagi mencetak diri sebagai Ontosoroh selanjutnya. Karena ku rasa, Ontosoroh tidak suka ditiru (Aku hanya sok tau saja). Karena sebenarnya aku juga tidak tau mengapa Nyai Ontosoroh memiliki kepribadian sekuat itu. Mungkin karena latar belakang seorang Nyai (gundik) dan kesetaraan sosial yang dijunjung tinggi pada masa itu. Sehingga dia ingin membuktikan bahwa dia bisa sejajar dengan bangsa eropa pada masa itu.
Aku tidak bisa membayangkan jika ada Ontosoroh hidup pada masa sekarang. Sepertinya dia juga tidak jauh berbeda dengan kita. Scroll Tiktok berjam-jam, mengeluh tidak punya kegiatan sedangkan judul sekripsi saja tidak punya dan malah asik mengetik hal seperti ini.

Lagi-lagi juga aku yang mengagumi banyak manusia hebat dan tetap saja aku berada pada lingkaran 'kehidupan' yang kuciptakan dengan komposisi kemalasan 20%, menunda pekerjaan 20%, mengerjakan hal tidak penting 20%, tidak konsisten 20%, dan 20% lainnya gabungan dari semangat, mimpi, usaha, tekat, keseriusan, dan ambisi.

Baru saja aku membunuh diriku sendiri dengan penilaian tidak berguna, kita bahas dilain waktu ya tentang 'diri yang membunuh diri sendiri'

See u next time!

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

BTemplates.com

Popular Posts