Hai, apakabar kaula muda yang mencemaskan banyak hal. Seakan-akan paling
menderita dimuka bumi ini. Kaula muda yang katanya sudah berumur dewasa tetapi
masih takut menyandang gelar dewasa sepenuhnya. Sampai mana sekarang? Sudah lulus?
Sudah bekerja dimana? Gajinya sudah berapa? Rencana nikah kapan nih? Mau bikin
rumah atau ikut mertua? Pertanyaan-pertanyan itu seakan-akan datang dengan
tujuan mencekik elo kan?
Kenapa tercekik? Bukankah memang fase kehidupan begitu-begitu saja. Sekolah
untuk kerja, kerja untuk modal nikah, nikah untuk bangun rumah. Begitu saja
seterusnya. Jadi, apa yang membuatmu seakan tidak kuat hari ini. Bukankah secara
tidak sadar setiap manusia juga mengetahui fase ini pada normalnya.
Jadi begini, menurut gue. Hal yang menjadi berat dalam kehidupan adalah
ketika elo berusaha untuk hidup normal. Masalahnya standar normal kini semakin
tidak normal untuk kalangan manusia yang berbagai macam dan dipaksa menjadi
kesatuan yang dianggap normal. Tidakkah susah menjadi normal? Normal dikalangan
keluarga yang beretitude bangsawan, normal dipenialian manusia modern, normal
dikalangan temen tongkrongan. Semakin kesini, aku menyadari jika kata “Normal” tidaklah
lebih dari kata “berseragam”. Bukankah memang itu sumber kesulitan kita? Menyeragamkan
dengan manusia yang jelas-jelas berbeda dari kita.
Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ke-normal-an yang sedang terjadi. Pasalnya
ada beberapa manusia yang berpikir sebisa mungkin untuk “mengambil hikmahnya” dari tragedi normal ini. Tetapi jangan lupa juga dengan manusia yang bertahan
setengah bernapas untuk tetap berjalan dijalur yang katanya Normal bagi kalangan manusia.
Kalau kata orang-orang istirahat dulu. Tapi tidak kataku, “Hei, kamu salah
jalan! Putar balik. Ini terlalu licin untukmu yang mudah terpeleset.” Aku akan
mengatakan bahwa kamu tidak perlu berjalan lagi dijalan yang kebanyakan orang
melewatinya. Bukankah semakin lama sampai tujuan jika kamu memaksa tetap dijalan
yang ramai itu dengan manusia-manusia yang mengejar gelar normal. Kamu bisa membuat jalan sendiri misalnya. namun jika itu
terlalu sulit untukmu, kamu bisa mengambil jalan yang sekiranya aman untukmu yang
mudah terpeleset meskipun hanya ada beberapa orang disana atau bahkan kamu akan
berjalan sendiri.
Coba bayangkan, jika kamu memaksa berada dijalan normal dan kamu terjatuh, maka kamu membutuhkan waktu untuk
menyembuhkan luka. Belum lagi jalan normal
dilalui oleh manusia-manusia yang saling berlomba. Justru kamu akan terlambat
ke tujuan karena kamu kesusahan menembus jutaan manusia disana. Tetapi jika
kamu berani keluar dari jalur normal,
kamu bisa memutuskan untuk membuat jalan alternatif, atau jalan yang sesuai
denganmu. Setidaknya kamu tidak akan terjatuh karena licin atau sesak karena
harus berhimpitan dengan ambisi manusia lain.
aku sedang tidak memotivasi, karena ini tulisan yang kutujukan pada diriku
sendiri. Si manusia yang berusaha normal. Karena berani berbeda itu tidaklah
mudah. Tetapi juga tidaklah mustahil. Jadi, ini hanya omong kosongku saja.
Kadang diri ini menjadi sangat asing dengan keadaan yang terjadi, melihat orang lain sukses bukanya tambah bahagia tapi malah terpuruk. Kalo boleh tau, g mna sii kak caranya buat ngadepin itu semua? Menurut sama semua Sama2 susah. Menjadi normal pun susah dan menjadi tidak normal (berbeda) pun merasa kurang percaya diri
BalasHapuscoba saja keduanya, itu lebih menyenangkan. karena jawaban itu akan muncul dari diri kita sendiri.
Hapus