Minggu, 23 Januari 2022

 


Hai, apakabar kaula muda yang mencemaskan banyak hal. Seakan-akan paling menderita dimuka bumi ini. Kaula muda yang katanya sudah berumur dewasa tetapi masih takut menyandang gelar dewasa sepenuhnya. Sampai mana sekarang? Sudah lulus? Sudah bekerja dimana? Gajinya sudah berapa? Rencana nikah kapan nih? Mau bikin rumah atau ikut mertua? Pertanyaan-pertanyan itu seakan-akan datang dengan tujuan mencekik elo kan?

Kenapa tercekik? Bukankah memang fase kehidupan begitu-begitu saja. Sekolah untuk kerja, kerja untuk modal nikah, nikah untuk bangun rumah. Begitu saja seterusnya. Jadi, apa yang membuatmu seakan tidak kuat hari ini. Bukankah secara tidak sadar setiap manusia juga mengetahui fase ini pada normalnya.

Jadi begini, menurut gue. Hal yang menjadi berat dalam kehidupan adalah ketika elo berusaha untuk hidup normal. Masalahnya standar normal kini semakin tidak normal untuk kalangan manusia yang berbagai macam dan dipaksa menjadi kesatuan yang dianggap normal. Tidakkah susah menjadi normal? Normal dikalangan keluarga yang beretitude bangsawan, normal dipenialian manusia modern, normal dikalangan temen tongkrongan. Semakin kesini, aku menyadari jika kata “Normal” tidaklah lebih dari kata “berseragam”. Bukankah memang itu sumber kesulitan kita? Menyeragamkan dengan manusia yang jelas-jelas berbeda dari kita.

Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan ke-normal-an yang sedang terjadi. Pasalnya ada beberapa manusia yang berpikir sebisa mungkin untuk “mengambil hikmahnya” dari tragedi normal ini. Tetapi jangan lupa juga dengan manusia yang bertahan setengah bernapas untuk tetap berjalan dijalur yang katanya Normal bagi kalangan manusia.

Kalau kata orang-orang istirahat dulu. Tapi tidak kataku, “Hei, kamu salah jalan! Putar balik. Ini terlalu licin untukmu yang mudah terpeleset.” Aku akan mengatakan bahwa kamu tidak perlu berjalan lagi dijalan yang kebanyakan orang melewatinya. Bukankah semakin lama sampai tujuan jika kamu memaksa tetap dijalan yang ramai itu dengan manusia-manusia yang mengejar gelar normal. Kamu bisa membuat jalan sendiri misalnya. namun jika itu terlalu sulit untukmu, kamu bisa mengambil jalan yang sekiranya aman untukmu yang mudah terpeleset meskipun hanya ada beberapa orang disana atau bahkan kamu akan berjalan sendiri.

Coba bayangkan, jika kamu memaksa berada dijalan normal dan kamu terjatuh, maka kamu membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka. Belum lagi jalan normal dilalui oleh manusia-manusia yang saling berlomba. Justru kamu akan terlambat ke tujuan karena kamu kesusahan menembus jutaan manusia disana. Tetapi jika kamu berani keluar dari jalur normal, kamu bisa memutuskan untuk membuat jalan alternatif, atau jalan yang sesuai denganmu. Setidaknya kamu tidak akan terjatuh karena licin atau sesak karena harus berhimpitan dengan ambisi manusia lain.

aku sedang tidak memotivasi, karena ini tulisan yang kutujukan pada diriku sendiri. Si manusia yang berusaha normal. Karena berani berbeda itu tidaklah mudah. Tetapi juga tidaklah mustahil. Jadi, ini hanya omong kosongku saja.


2 komentar:

  1. Kadang diri ini menjadi sangat asing dengan keadaan yang terjadi, melihat orang lain sukses bukanya tambah bahagia tapi malah terpuruk. Kalo boleh tau, g mna sii kak caranya buat ngadepin itu semua? Menurut sama semua Sama2 susah. Menjadi normal pun susah dan menjadi tidak normal (berbeda) pun merasa kurang percaya diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba saja keduanya, itu lebih menyenangkan. karena jawaban itu akan muncul dari diri kita sendiri.

      Hapus

Blogroll

BTemplates.com

Popular Posts